Kelar Dibangun, Jembatan Walisongo Sragen Sisakan Masalah Drainase

Jalan penghubung Jembatan Walisongo di Plumbungan, Karangmalang, Sragen, sisi timur dijebol untuk aliran drainase sementara, Sabtu (1/12 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
03 Desember 2018 09:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Pembangunan Jembatan Walisongo yang menghubungkan Kampung Sungkul di Kelurahan Plumbungan dan Kampung Bonagung di Kelurahan Kroyo, Kecamatan Karangmalang, Sragen, senilai Rp2,3 miliar pada 2018 masih menyisakan masalah.

Warga di lingkungan Kampung Sungkul terganggu dengan sarana drainase yang tidak bisa tuntas. Ketua RT 012/RW 004 Sungkul, Sholeh, bersama pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Walisongo dan beberapa warga sempat melihat kondisi saluran drainase di sekitar Jembatan Walisongo.

Warga setempat terpaksa menutup akses jalan ke jembatan itu karena jalan betonnya dijebol untuk aliran drinase. “Yang menjebol jalan beton ini pihak rekanan sendiri tiga hari lalu karena ada keluhan warga air tidak bisa masuk ke drainase. Akibatnya akses lalu lintas ditutup sementara sampai ada penyelesaian,” kata Sukiyo, 64, warga yang tinggal di sebelah timur jembatan itu.

Sukiyo pun sampai membuat drainase sendiri untuk pembuangan air. Dia menyampaikan limpasan air ke wilayahnya cukup besar dari wilayah selatan. Bahkan rumpun bambu milik Sukiyo di pinggir Sungai Garuda pun longsor ke dasar sungai.

Selain itu, Sukiyo menyampaikan tanah milik warga di depan rumahnya juga ikut longsor. “Sebelum ada pembangunan jembatan, drainase lancar dan tidak ada masalah. Tetapi setelah ada jembatan justru menumbulkan masalah baru, yakni drainase tidak lancar,” tuturnya.

Sholeh pun sempat mengingatkan rekanan pelaksana saat pembuatan drainase yang sebagian besar berasal dari pembuangan limbah rumah tangga Ponpes Walisongo. Dia mengatakan keinginan warga drainase itu diluruskan ke sungai tetapi dari rekanan membelokkan ke sebelah utara jembatan.

“Saya sudah khawatir sejak awal dan ternyata kekhawatiran saya terjadi. Kemarin terkesan warga diminta swadaya. Kalau warga swadaya uang dari mana? Kas RT tidak mampu. Setelah saya cek ternyata tanah uruk di bawah jalan juga ambles, akibatnya jalan beton jadi menggantung. Kalau tak segera diperbaiki, kalau dilewati kendaraan berat bisa ambles. Saya lihat sudah ada retak-retak di buk jembatan,” tuturnya.

Sholeh juga mempertanyakan adanya prasasti pembuatan jembatan tetapi ditutup dengan cat. Prasasti itu menyebutkan panjang jembatan yang melintas di Sungai Garuda itu 24 meter dan lebarnya 4,5 meter.

Dalam prasasti itu menyebut nama Jembatan Walisongo yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen tahun 2018. “Pekerjaan ini baru selesai pada November lalu,” kata Sholeh.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Sragen Marija saat ditemui Solopos.com di Gedung DPRD Sragen, Sabtu, mengaku sudah mengecek lokasi Jembatan Walisongo. Dia membenarkan bila jalan sebelah timur jembatan dijebol rekanan untuk aliran drainase sementara.

“Ya, memang sudah dijebol tetapi nanti diperbaiki setelah bahan datang. Bahan sudah dipesan. Setelah datang bahan diperbaiki,” ujarnya.