Talut 2 Sungai di Tangkil Sragen Kritis, Awas Longsor!

Warga mengamati kondisi talut yang pernah jebol pada Maret lalu di Dusun Gabusan, Desa Tangkil, Sragen, Senin (3/12 - 2018). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
03 Desember 2018 15:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Musim penghujan membuat warga di daerah hilir Sungai Garuda dan Sungai Mungkung, Desa Tangkil, Kecamatan/Kabupaten Sragen, waswas. Selain khawatir akan datangnya banjir, warga juga waswas dengan kondisi talut sungai yang semakin kritis dan rawan longsor.

Di Dusun Gabusan, terdapat tiga rumah yang terdampak kondisi talut yang semakin kritis itu. Talut Sungai Mungkung dibangun Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) pada 2010 silam.

Akan tetapi, pada Maret 2018 lalu, terjadi banjir yang membuat talut sepanjang 40 meter dan setinggi 6 meter longsor. Longsornya talut itu membuat tebing sungai dan rumah warga hanya berjarak kurang dari dua meter.

Sebagai solusi sementara, Pemdes Tangkil dibantu BPBD Sragen, anggota TNI, Polri dan lain-lain bekerja bakti menimbun karung berisi pasir atau sandbag. Akan tetapi, timbunan sandbag tersebut dikhawatirkan tidak cukup kuat untuk menahan derasnya arus air saat musim hujan tiba.

“Rumah saya sudah retak-retak karena terdampak longsoran talut itu. Kami berharap talut yang ambrol ini bisa diperbaiki secara permanen. Kalau musim hujan begini saya jadi waswas takut kalau terjadi apa-apa,” papar Ny, Supriyono saat ditemui Solopos.com di lokasi, Senin (3/12/2018).

Talut yang kritis itu berlokasi di tikungan sungai berbentuk letter U. Debit air di Sungai Mungkung itu makin tinggi setelah mendapat limpahan air dari Sungai Garuda. Aliran air itu kemudian bermuara ke Sungai Bengawan Solo di wilayah Sapen.

Sementara itu, di Dusun Bugel terdapat masjid juga terdampak tebing Sungai Garuda yang kritis. Tebing sungai itu sudah longsor sejak tahun lalu. Longsornya tebing sungai itu mengancam bangunan Masjid Miftahul Firdaus.

Kepala Desa Tangkil Agus Sriyanto mengatakan erosi atau longsornya tebing sungai merupakan masalah yang terus dihadapi Desa Tangkil setiap musim kemarau. Menurutnya, setiap tahun, Pemdes Tangkil sebetulnya sudah mengalokasikan anggaran senilai Rp3 juta untuk menanggulangi potensi longsor di tebing Sungai Garuda maupun Sungai Mungkung.

Dana senilai Rp3 juta itu untuk membeli pasir, tanah uruk, dan batang bambu sebagai tiang pancang. Bila kerusakan talut cukup parah, perbaikan diusulkan ke BBWSBS.

“Kami memahami keresahan warga seiring datangnya musim hujan seperti saat ini. Tapi untuk membangun talut itu butuh dana besar. Tidak mungkin memakai dana dari desa. Kewenangan kami hanya mengusulkan, tetapi pelaksana kegiatan tetap di BBWSBS,” papar Agus.