Perempuan Paruh Baya Sragen Meninggal Diserang Gerombolan Tawon

Ketua RT 007, Dusun Dukuh, Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, mengamati kebun lokasi Ngatinem diserang tawon, Senin (3/12 - 2018). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
03 Desember 2018 17:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Maksud hati ingin mencari kayu bakar, Ngatinem, 55, warga Dusun Dukuh, Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, justru meregang nyawa dengan cara mengenaskan. Ngatinem meninggal dunia pada Minggu (2/12/2018) setelah diserang segerombolan tawon.

Peristiwa tragis itu bermula ketika Ngatinem tengah mencari kayu bakar di kebun milik almarhum Manto Saimin pada Sabtu (1/12/2018) sore sekitar pukul 15.00 WIB. Kebun seluas sekitar 1.500 meter persegi itu sudah bertahun-tahun tidak terawat karena semua ahli waris Manto Saimin berdomisili di luar Sragen.

Mengetahui ada kayu yang sudah kering di kebun itu, Ngatinem bermaksud memotongnya menggunakan parang. Namun, tanpa sengaja potongan kayu itu menimpa sarang tawon di permukaan tanah. Nahas, gerombolan tawon yang belum diketahui jenisnya itu langsung keluar dari sarang dan menyerang Ngatinem secara membabi buta.

Gerombolan tawon itu awalnya menyengat bagian kepala. Ngatinem lantas melepas pakaian bagian atas lalu mengibas-ngibaskannya untuk mengusir gerombolan tawon yang menyerangnya. Namun, gerombolan tawon justru bertambah beringas.

Tidak hanya bagian kepala, tawon itu menyengat sekujur tubuhnya. Merasa kewalahan menghadapi serangan tawon, Ngatinem sempoyongan berlari untuk menyelamatkan diri. Malang baginya, gerombolan tawon itu tetap mengejar Ngatinem yang berlari menuju rumahnya.

Jarak rumah Ngatinem dengan kebun itu sebenarnya hanya sekitar 100 meter. Akan tetapi, masih ada puluhan tawon yang mengejar Ngatinem hingga masuk ke dalam rumah. Sesampainya di rumah, Ngatimen kemudian ditolong suaminya, Trisno Sukarno, 60, dibantu tetangganya.

“Sekujur badannya penuh bentol. Kami langsung membawanya ke bidan desa. Setelah dikasih obat, bentolnya mulai menyusut meski masih ada bekasnya. Tapi, dia terus mengeluhkan rasa sakit di kepala dan perut,” ujar Parti, adik Ngatinem, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Senin (3/12/2018).

Sepanjang malam, Ngatimen terus merintih kesakitan. Dia merasa tidak kuat menahan sakit di kepala dan perutnya. Namun, pada saat itu keluarganya tidak terlalu khawatir dengan kondisi Ngatinem.

Mereka merasa yakin Ngatimen segera sembuh setelah ia beristirahat. Sayang, perkiraan keluarga meleset. Kondisi kesehatan Ngatinem justru makin memburuk pada Minggu pagi pukul 06.00 WIB.

Keluarga lantas memanggil bidan desa, tapi Ngatinem malah tidak sadarkan diri dua jam kemudian. Keluarga pun membawa Ngatinem ke rumah sakit. Namun ia akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit, tepatnya di kawasan Taraman.

“Saat jenazah dibawa pulang, keluarga masih belum yakin 100% Ibu Ngatinem sudah meninggal dunia. Mereka masih sulit percaya sengatan tawon bisa menyebabkan kematian. Keluarga lalu kembali memanggil tim medis untuk memeriksa Ngatinem. Setelah itu keluarganya baru percaya Bu Ngatinem benar-benar sudah meninggal dunia. Jenazah akhirnya dimakamkan pada Minggu siang pukul 12.30 WIB,” papar Ketua RT 07, Dusun Dukuh, M. Husnul Aziz.