Pan Brothers Boyolali Kekurangan 4.000 Tenaga Kerja

ilustrasi buruh pabrik, buruh perempuan. (Solopos/Dok)
03 Desember 2018 07:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- PT Pan Brothers Tbk. di wilayah Boyolali masih kekurangan 4.000 tenaga kerja. Dari kebutuhan 25.000 orang, saat ini baru terisi 21.000 orang.

Kebutuhan paling banyak untuk posisi operator dan sebagian untuk mengisi level middle management seperti supervisor.

“Jadi kami masih kekurangan tenaga kerja sebanyak 4.000 orang, itu untuk Boyolali saja,” kata General Manager HRM PT Pan Brothers Tbk., Nurdin Setiawan, kepada Solopos.com, Sabtu (1/12/2018).

Pan Brothers Boyolali saat ini telah mengembangkan tiga perusahaan dengan enam pabrik di Kecamatan Mojosongo, Kecamatan Klego, dan Kecamatan Sambi.

Untuk menutup kekurangan tenaga kerja itu tersebut, produsen apparel (pakaian jadi) untuk merek Salomon, The North Face, Adidas, Uniqlo, dan lainnya ini manajemen mencari calon-calon tenaga kerja di wilayah Boyolali dan berbagai daerah seperti Kebumen, Purworejo, dan Cilacap, bahkan ke luar Jawa Tengah seperti Pacitan, Ponorogo,.

Upaya yang dilakukan di antaranya dengan sistem direct of hunting candidate (DOHC) ke pelosok daerah. Upaya ini dilakukan bekerja sama dengan seluruh kecamatan dan desa.

“Di pelosok ada RDA [recruitment development ambassador] yang bertugas untuk menyosialisasikan eksistensi Pan Brothers, khususnya di 19 kecamatan di Boyolali. Selain itu RDA juga menyampaikan tentang kebutuhan tenaga kerja di Pan Brothers,” imbuh Nurdin.

Pan Brothers juga membuat Rumah Ayo Kerja (RAK) di berbagai kabupaten yang bekerja sama dengan karang taruna atau tokoh masyarakat setempat. RAK juga merupakan fasilitator calon tenaga kerja yang berminat mendaftar ke Pan Brothers.

Selain itu, digelar roadshow to school (RSTS) untuk menjalin kerja sama dengan sekolah. Saat ini, Pan Brothers sudah melakukan MoU dengan 71 SMA/SMK di Boyolali. Ada tiga hal yang disepakati yakni tentang penyaluran lulusan sekolah, pemberian CSR beasiswa untuk 1.000 siswa SMA/SMK se-Jawa Tengah dengan nilai Rp2 miliar per tahun, serta tentang pelatihan budaya kerja.

"Jadi ketika nanti lulusan sekolah itu masuk dunia industri sudah terbiasa dengan budaya kerja,” terangnya.

Di sisi lain, Nurdin menjelaskan karyawan yang bekerja di perusahaannya akan memperoleh upah dan fasilitas lain sesuai aturan. “Upah dan fasilitas karyawan akan diberikan secara normatif menyesuaikan UMK [upah minimum kabupaten/kota], ada insentif kehadiran, insentif target, lembur yang secara normatif maksimum tiga jam, hingga BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan kami ikutkan,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinkopnakertrans) Boyolali Syawaludin belum dalam dimintai tanggapan mengenai kebutuhan tenega kerja di Boyolali. Namun saat ditemui Solopos.com, beberapa waktu lalu di kantornya, Syawaludin mengakui Boyolali kekurangan tenaga kerja untuk mengisi perusahaan-perusahaan di wilayahnya.