Modal 6.000 Pohon, Balerante Klaten Siap Jadi Penghasil Kopi

Bupati Klaten, Sri Mulyani, menanam bibit pohon kopi di kawasan Kalitalang, Desa Balerante, Kemalang, Minggu (2/12 - 2018). (Istimewa)
03 Desember 2018 14:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, menanam 6.000 pohon kopi di Kalitalang, desa setempat, Minggu (2/12/2018).

Penanaman kopi itu menandai pengembangan produksi kopi Balerante sehingga pada saatnya nanti Balerante siap jadi penghasil kopi.

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Jainu, mengatakan penanaman kopi dan aneka tanaman lainnya merupakan bagian dari konservasi alam sekaligus pengembangan pariwisata. Bibit kopi berasal dari Jember dengan varietas Sigarar Utang.

Kopi ini bisa berbuah dalam dua tahun. “Kami tanam di kebun-kebun warga. Yang merawat nanti kelompok-kelompok tani. Hasilnya akan kami namai kopi Balerante,” ujar dia saat ditemui wartawan seusai penanaman pohon di Kalitalang, Desa Balerante, Kemalang, Minggu.

Sampel kopi Balerante pernah diikutkan dalam festival kopi di Jakarta belum lama ini. Hasilnya, respons pencinta kopi cukup bagus dengan kehadiran kopi Balerante. Di festival itu, kopi Balerante dijual Rp80.000 per kemasan 100 gram.

“Ke depan, ini menjadi produk unggulan Balerante. Upaya itu dimulai hari ini dengan menanam 6.000 pohon kopi,” tutur dia.

General Manager PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero) (PT TWC), Aryono Hendro, mengatakan pada kesempatan itu PT TWC juga ikut menanam 1.000 tanaman buah-buahan. Penanaman pohon menjadi bagian pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT TWC.

“Kami peduli terhadap konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata. Kami ingin semua bisa berkembang bersama. Kami berharap melalui program ini terbangun sebuah kawasan wisata di Jogja-Solo-Semarang [Joglosemar]. Wisatawan bisa menyebar ke daerah-daerah dan target kunjungan wisatawan bisa tercapai,” harap dia.

Peneliti Utama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), Joko Puguh Wibowo, menilai penanaman kopi dan tanaman buah di Kalitalang menjadi langkah awal yang bagus bagi pengembangan Desa Balerante.

Ia berharap tahun depan Pemkab Klaten bisa mendukung dengan pengalokasian anggaran untuk kegiatan serupa. “Dari segi media, ini bagus. Tapi untuk kawasan wisata memang masih prihatin. Namun, semangat Desa Balerante patut diapresiasi."

Ia menilai salah satu kendala pengembangan kawasan Kalitalang yakni lokasinya di zona restorasi milik Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Ia berharap TNGM bisa mengajak masyarakat memanfaatkan hutan sebagai benteng Taman Nasional.

“Saya tahu ini zona restorasi. Namun, kami berharap [TNGM] bisa mengajak masyarakat memanfaatkan hutan sebagai benteng taman nasional. Kami pastikan ke sana [TNGM], [upaya ini] tidak merusak [taman nasional],” ujar Joko.