Muda Berkarya: Ini Tantangan Anak Muda Solo menurut Astrid Widayani

Inisiator Youth Reinforcement Program (YRP) Solo, Astrid Widayani. (Istimewa)
04 Desember 2018 08:52 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Anak muda Kota Solo, termasuk para pengembang startup butuh wadah untuk berkreasi khususnya di bidang ekonomi kreatif. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo perlu memberikan tempat sebagai wadah pengembangan diri.

Berdasarkan catatan solopos.com, setidaknya puluhan startup lahir dari kreasi anak muda Solo, seperti Triponyu dan Soku. Inisiator Youth Reinforcement Program (YRP) Solo, Astrid Widayani, mengatakan anak muda Solo yang berbisnis startup mulai ada dan berkembang. Mereka butuh wadah sebagai ruang kreasi untuk kian mengembangkan diri.

“Anak muda Solo berbisnis startup mulai banyak. Tapi, Solo belum ada wadah bersama. Maka dari itu, yang paling utama adalah peran dari Pemkot untuk menyediakan sarana dan prasarana. Kalau kaitannya seni ekonomi kreatif butuh tempat praktik, studio, atau lab,” kata dia kepada solopos.com, Sabtu (1/12).

Wadah tersebut sangat dibutuhkan agar mereka saling bersinergi, sharing, hingga konsultasi. Menurut Astrid, selama ini sejumlah komunitas masih berjalan sendiri. Lantaran itu diperlukan tempat untuk mengembangkan potensi mereka secara bersama-sama. Jika sudah tercipta kesatuan, otomatis bakal mengundang banyak investor.

Hal ini sejalan dengan pendapat CEO Triponyu.com, Augustinus Adhitya P., yang menyebut di Solo banyak komunitas startup muncul. Namun, keberadaan mereka masih terpetak-petakkan. Solo belum memiliki wadah yang representatif untuk mewadahi para pelaku startup sehingga bisa berkolaborasi.

Di sisi lain, Astrid mengatakan sebenarnya anak muda Solo kreatif. Namun mereka harus dipaksa dulu agar potensi mereka maksimal. Menurut dia, kultur Jawa, yang cenderung kalem, seharusnya tidak jadi halangan, justru menjadi kekuatan dan keunikan tersendiri.

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Surakarta ini menambahkan potensi anak muda Solo tidak kalah dibandingkan kota besar lain, namun terganjal pengembangan. Hal ini tak lepas dari kultur Solo yang tak dimiliki kota lain. Di Solo banyak anak muda yang memiliki latar belakang budaya kental, seperti pakewuh terhadap senior. Hal ini mungkin berbeda dengan Bandung yang dari segi pemikiran lebih terbuka.

“Seperti halnya dalam program [Youth Reinforcement Program] yang saya buat. Saya bedakan antara norma budaya dengan kepribadian. Seorang Astrid misalnya memang masih seperti ini, dengan sikap saya, meski ke luar negeri sekali pun. Akan tetapi, pembedanya adalah skill yang harus ditingkatkan,” jelas dia.