700-An Pedagang Pasar Legi Solo Tak Jualan Karena Tunggu Lapak Darurat

Pengendara lewat di Jl. Sabang Solo yang digunakan sebagai pasar darurat Pasar Legi, Jumat (30/11 - 2018) siang. Kios darurat belum dipakai pedagang. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
04 Desember 2018 11:15 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ratusan pedagang Pasar Legi, Banjarsari, Solo, belum berjualan pascamusibah kebakaran akhir Oktober 2018 lalu. Mereka masih menantikan selesainya pembuatan pasar darurat.

Hal itu diungkapkan Ketua Ikatan Kekeluargaan Pedagang Pasar Legi (Ikappagi) Solo, Tugiman, saat diwawancarai Solopos.com di Kompleks Pasar Legi, Senin (3/12/2018) siang.

“Jumlah pedagang keseluruhan 1.700-an orang. Tapi yang terdampak musibah kebakaran 1.400 an orang. Dari jumlah itu sekitar separuhnya atau 50 persennya masih merumahkan diri sampai sekarang alias belum berjualan,” ujar dia.

Menurut Tugiman, para pedagang memilih merumahkan diri lantaran kebingungan mencari tempat berjualan sementara. Opsi menyewa rumah toko (ruko) atau rumah warga di sekitar Pasar Legi juga berat karena biaya yang relatif mahal.

Tugiman mengakui ada bantuan tenda dan payung dari pemerintah bagi pedagang korban kebakaran. Tapi berbagai fasilitas darurat tersebut belum bisa mengkaver seluruh pedagang Pasar Legi yang terdampak musibah kebakaran.

“Ada bantuan tenda sekitar 100 dan payung beberapa. Tapi itu belum bisa mengkaver seluruh pedagang terdampak kebakaran. Sebagian pedagang memilih sewa ruko dan rumah warga yang tarifnya lumayan mahal,” sambung dia.

Menurut Tugiman tarif sewa ruko dan rumah warga bervariasi antara Rp35 juta hingga Rp100 juta per tahun. Dengan tarif sebesar itu tidak semua pedagang mampu menyewa sehingga sebagian pedagang memilih berjualan di pinggir jalan.

“Ada sebagian pedagang yang berkeliaran di pinggir jalan, jualan pakai mobil,” imbuh dia.

Tugiman menilai Pemkot Solo sebenarnya sudah cukup sigap dalam merespons musibah kebakaran Pasar Legi. Pasar darurat langsung disiapkan di beberapa lokasi.

Tapi saking banyaknya pedagang yang terdampak musibah membuat proses penyiapan pasar darurat memakan waktu. Dia mengimbau para pedagang agar lebih bersabar menunggu pembuatan pasar darurat selesai 100 persen.

Dia mengakui terjadi penurunan omzet yang signifikan pascamusibah kebakaran. Penurunan omzet pedagang rata-rata di angka 50 persen. “Para pelanggan kan bingung, tidak tahu di mana pedagang langganan mereka,” tambah dia.

Salah seorang pedagang, Bejo Hadi Wiyono, 71, mengaku omzetnya berjualan jeruk berkurang 40 persen sejak musibah kebakaran. Los pasar yang selama ini dia tempati hangus terbakar dan dia harus berjualan di halaman pasar.

“Otomatis omzet kami anjlok, sekitar 40 persen lah. Maka kami sangat berharap pasar darurat bisa segera selesai dan bisa ditempati agar kami bisa berjualan dengan tenang. Apalagi ini sudah masuk musim penghujan,” tutur dia.