Koridor Gatsu Dinilai Lebih Potensial Disulap Jadi Malioboronya Solo

Jalan Gatot Subroto Solo. (Solopos/Dok)
05 Desember 2018 12:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kalangan akademisi menilai koridor Jl. Gatot Subroto (Gatsu) lebih potensial untuk dikonsep jadi Malioboronya Solo ketimbang citywalk di Jl. Slamet Riyadi.

Pendapat tersebut disampaikan akademisi menanggapi rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menjadikan kawasan citywalk Jl. Slamet Riyadi layaknya Malioboro Jogja dengan menampilkan kerajinan asli Kota Solo.

Akademisi menilai itu merupakan langkah yang baik. Namun, citywalk Jl. Slamet Riyadi dirasa kurang maksimal apabila dikembangkan jadi pusat bisnis layaknya Malioboro.

Dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Kusumaningdyah Nurul, kepada Solopos.com, Selasa (4/12/2018), mengatakan Jl. Gatot Subroto lebih potensial dibandingkan dengan citywalk Jl. Slamet Riyadi untuk disulap jadi Malioboronya Solo.

“Jl. Slamet Riyadi telah menjadi karakter Kota Solo dengan pohon yang rindang. Apabila hendak dijadikan seperti Malioboro maka harus dilihat dulu apakah Jl. Slamet Riyadi itu central bussines district [CBD]. Memang benar Jl. Slamet Riyadi itu CBD namun tipenya jelas berbeda dengan kawasan Malioboro,” ujarnya.

Menurutnya, di kawasan Malioboro CBD terdapat berbagai karakter baik dalam bisnis kelas bawah, menengah, hingga kelas atas. Berbeda dengan CBD di kawasan citywalk, kawasan itu merupakan kawasan perkantoran besar dengan variasi monoton bukan tempat bisnis ritel kecil.

Ia menambakan kawasan Jl. Gatot Subroto Solo hampir menyerupai kawasan Malioboro Jogja. Lebar jalan yang memisahkan kawasan pertokoan dengan jarak sekitar 12 meter dan pertokoan dengan muka yang tidak terlalu lebar lebih mendukung dan membuat seluruh kelas masyarakat dapat masuk.

“Kalau ada komunitas yang dapat menghidupkan kawasan Gatsu, dapat membuka kawasan, terkawal oleh pemerintah dan sustainable. Saat ini Pemkot luar biasa telah memfasilitasi secara fisik namun juga harus sustainable dan menjaga kelangsungannya. Seluruh elemen harus kerja bersama tidak bisa hanya sebatas fisik. Kalau diisi penjual makanan saya rasa akan lebih bertahan misal Satai Kere Gatsu,”ujarnya.

Ia menambahkan Jl. Slamet Riyadi lebih baik menjadi ruang terbuka yang rindang ditambah dengan elegan bangunan heritage Kota Solo. Sementara Gatsu lebih cocok dijadikan konsep seperti Malioboro dengan memerhatikan produk yang akan dijual dan siapa calon pembelinya.