Tim SAR Sragen Makin Sibuk Tumpas Sarang Tawon

Tim gabungan Poldes, BPBD, dan Damkar membasmi sarang tawon berukuran sebesar bola basket di Kampung/Kelurahan Plumbungan, Karangmalang, Sragen, Selasa (4/12 - 2018) malam. (Solopos/Tri Rahayu)
05 Desember 2018 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tiga unit mobil warna oranye dari tim search and rescue (SAR) tiba di Kampung/Kelurahan Plumbungan RT 007/RW 003, Karangmalang, Sragen, Selasa (4/12/2018) malam.

Belasan orang keluar dari mobil itu. Mereka adalah tim gabungan SAR dari Poldes Sragen, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, dan Satuan Pemadam Kebakaran (Damkar) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen. Kedatangan mereka sudah dinanti warga.

Warga setempat waswas karena ada sarang tawon sebesar bola basket di rerimbunan daun pohon melinjo di pekarangan rumah Mbah Parmin, 58. Warga menerima kabar ada warga Tenggak, Sidoharjo, Sragen, yang meninggal dunia sehari setelah disengat tawon jenis yang sama.

Warga setempat menyebut itu jenis tawon endas. Kedatangan sukarelawan bencana itu memang karena dimintai bantuan warga untuk membasmi sarang tawon.

Beberapa sukarelawan Poldes menyurvei sarang tawon dengan menggunakan senter. Sarang tawon itu berada di ketinggian 2,5 meter dari permukaan tanah. Setelah mengetahui lokasinya, mereka meminta lampu di sekitar sarang tawon dimatikan.

Jarum jam menunjuk pukul 22.30 WIB. “Mbah, lampunya dimatikan,” teriak salah satu warga.

Parmin segera masuk rumah untuk mematikan lampu. Kondisi yang awalnya terang menjadi gelap.

Sukarelawan segera menyiapkan tongkat besi sepanjang 3-4 meter. Di ujung tongkas dililit kain bekas yang sudah diberi minyak. Setelah dekat denngan sarang tawon, ujung tongkat langsung dibakar dengan korek api.

Seketika api membesar. Api itu digunakan untuk membakar sarang tawon itu. “Itu suara daun atau suara tawon yang terbakar?” ujar Ny. Yoto, 55, saat menyaksikan pembasmian sarang tawon dari kejauhan.

Ny. Yoto merasa beruntung karena selamat dari sengatan tawon saat memetik daun melinjo untuk membuat sayur botok. Ny. Yoto memetik daun bersama Harni, 33, tetangga depan rumahnya.

“Hal itu terjadi 2-3 hari lalu. Saya kaget saat daun saya buka ternyata pas di depan pintu sarang tawon itu. Saya langsung lari. Ternyata Harni itu terkena sengatan salah satu tawon. Tiga hari terakhir ini belum sembuh meriangnya gara-gara sengatan tawon itu,” ujar Ny. Yoto.

Dalam waktu kurang dari lima menit, sarang tawon itu bisa dibasmi. Selama proses evakuasi tidak ada korban sengatan tawon. Ny. Yoto dan warga lainnya merasa lega.

“Itu masih ada satu sarang tawon yang lebih besar di RT 012, Sungkul, Karangmalang,” ujar salah satu warga.

Sukarelawan BPBD Sragen Joko Dukun bersama warga melihat lokasi dan mengondisikan warga agar bersiap. Setelah 10 menit berlalu Joko memberi tahu tim gabungan untuk membasmi sarang nyamuk di Sungkul.

“Sekarang pekerjaan kami jadi tukang basmi tawon,” celetuk Komandan Regu Poldes Sragen, Bambang.

Hampir setiap malam tim Poldes bersama SAR lainnya bergerilya mencari sarang tawon. Antusias masyarakat untuk melaporkan adanya sarang tawon cukup intensif sejak terjadi musibah warga yang meninggal dunia setelah disengat tawon.

“Semalam ada empat lokasi evakuasi sarang tawon, yakni Sidomulyo, Plumbungan, dan dua tempat di Sungkul. Sampai siang ini masih ada 12 lokasi sarang tawon yang belum dievakuasi. Empat hari terakhi rini, hampir setiap malam membasmi 3-4 sarang tawon. Total selama sebulan terakhir sudah ada 30-an sarang tawon yang dievakuasi,” ujar Sekjen Poldes Sragen, Tri Setyawan.

Kalau ada sukarelawan yang tersengat itu biasa. Tri berkisah sarang tawon yang paling besar berada di belakang selepan di wilayah Masaran dengan diameter sarang tawon sepanjang 1,5 meter.

Mereka tidak kenal menyerah meskipun medannya sulit. Saat ada sarang tawon di bawah struktur atap bagian atas, mereka pun harus membongkar genting untuk membasmi sarang tawon itu.