Kisah Kusir Dokar Klaten Harus Rela Ngeroki Pakai Irus Saat Kuda Masuk Angin

Seorang warga bersama buah hatinya saat menumpang dokar di perempatan Delanggu, Klaten, Senin (3/12 - 2018). (Solopos/Ponco Suseno)
05 Desember 2018 11:45 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, SOLO -- Selama 23 tahun terakhir, Darsono, 60, warga Kebonharjo, Polanharjo, Klaten, menjalani pekerjaan sehari-hari sebagai kusir dokar. Keahlian Darsono mengemudikan kereta kuda diperoleh dari orang tuanya yang juga kusir dokar.

Definisi dokar menurut Darsono berbeda dengan andong. Dokar merupakan kereta beroda dua yang ditarik kuda. Biasanya dokar memiliki jungkitan.

Dokar dapat ditumpangi maksimal lima orang termasuk kusir. Sedangkan andong merupakan kereta beroda empat yang ditarik kuda. Maksimal dapat ditumpangi delapan orang plus kusirnya.

Senin (3/12/2018) pagi itu Darsono leyeh-leyeh di jok dokarnya. Sehari-hari, Darsono mangkal di perempatan Delanggu. Lokasi itu dinilai strategis karena berdekatan dengan Pasar Delanggu.

Peluang memperoleh penumpang pun lebih besar dibandingkan di daerah lain di Delanggu. Sembari leyeh-leyeh itu, sorot mata Darsono mengarah ke orang-orang yang melintas di perempatan Delanggu.

“Dokar, bu,” teriak Darsono ke salah satu ibu-ibu yang menenteng tas belanjaan dari Pasar Delanggu, Sabtu.

Perempuan di seberang jalan yang disapa Darsono itu pun tak menghiraukan tawaran Darsono. Perempuan itu tak tertarik menumpang dokar milik Darsono.

Tarif menumpang dokar biasanya berkisar Rp10.000-Rp75.000 sekali jalan. Tarif itu sesuai jarak tempuh. Biasanya jarak tempuh terjauh berkisar delapan kilometer.

“Sejak lima tahun terakhir ini orang yang tertarik menumpang dokar atau pun andong berkurang drastis. Para pelanggan saya banyak yang beralih ke kendaraan pribadi, omprengan, ojek pangkalan, atau pun ojek online. Saya juga pernah tak dapat penumpang dalam sehari. Saat ini, pendapatan saya per hari tak sampai Rp75.000. Pendapatan yang diperoleh biasanya saya kurangi Rp25.000 untuk pakan kuda. Sisanya baru untuk makan,” kata Darsono.

Sebagai kusir, Darsono menyadari harus dapat menyatu dengan kudanya. Darsono harus mengetahui karakter kudanya. Hal itu termasuk saat kudanya menderita sakit. Agar lebih akrab, Darsono memberi nama kudanya Slamet.

“Kuda saya ini sudah ikut saya selama 15 tahun. Pernah juga mengalami sakit. Seringnya masuk angin. Tanda-tandanya, saat di kandang dia selalu gulung-gulung. Kakinya menggaruk-garuk tanah. Saat masuk angin itu, saya juga harus siap ngeroki. Biasanya saya menggunakan minyak tanah dan irus [sebagai alat kerokan]. Setelah itu diberi minuman bersoda agar dapat segera pipis. Kalau sudah pipis, kuda sehat kembali dan bisa diajak bekerja lagi,” katanya.

Kusir di dekat Pasar Delanggu lainnya, Tawan, 54, mengatakan pendapatan yang diperoleh kusir di era milenial saat ini tak tentu.

“Jangan tanya soal pendapatan. Saingannya saat ini banyak. Persoalannya, kalau saya tidak bekerja sebagai seorang kusir, akan bekerja apa lagi? Keahlian saya juga menjadi kusir ini. Jadinya, pasrah saja,” katanya.

Tawan mengatakan jumlah orang yang menjadi kusir di kawasan Delanggu terus bekurang dalam beberapa tahun terakhir. Di era 1980-an, jumlah kusir yang biasa mangkal di perempatan Delanggu mencapai 50-an orang.

Saat ini, tinggal 10 orang-15 orang. Para kusir itu berasal dari berbagai daerah di kawasan Delanggu, seperti dari Polanharjo, Wonosari, Juwiring, dan lain sebagainya.

“Harga beli kuda per ekor itu senilai Rp10 juta. Saat usia sudah mencapai 17 tahun, biasanya laju kuda sudah tak begitu cepat. Perlu diijolke [ditukar] meski tombok. Ini yang biasa dihadapi para kusir di sini,” katanya.