BKSDA Ungkap Macan Lawu Terkam Kambing Bukan Cari Makan Tapi...

Anggota polisi, warga, dan petugas Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar saat mengecek hewan ternak, Kamis (22/11/2018). (Istimewa - Polres Karanganyar
05 Desember 2018 17:55 WIB Irawan Sapto Adhi Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng) memastikan stok makanan di hutan Gunung Lawu untuk hewan predator seperti macan masih cukup tersedia.

Kepala Seksi (Kasi) Konservasi BKSDA Wilayah I Jateng, Titik Sudaryanti, meyakini penyebab macan Gunung Lawu turun ke permukiman warga dan menyerang hewan ternak bukan karena stok makanan di gunung habis.

Pasalnya, petugas BKSDA Jateng belum lama ini melakukan penelusuran dan mendapati sejumlah kijang berkeliaran di Gunung Lawu. Petugas BKSDA juga mendapatkan informasi dari warga yang masih menemukan sejumlah kijang di Gunung Lawu. 

Titik pun memprediksi ada dua hal yang menjadi penyebab macan Gunung Lawu akhirnya turun ke permukiman warga. Pertama, habibat hidup macan di Gunung Lawu belum pulih pascakebakaran pada Agustus lalu. Macan akhirnya berkeliaran untuk mencari habitat baru.

Kedua, ada kemungkinan macan turun gunung karena tengah berkeliaran untuk mencari anaknya yang lain. Masalah macan menerkam hewan ternak milik warga di perkampungan, dia menduga, sang induk sekalian melatih anaknya untuk berburu.

“Kamera infrared sementara baru menangkap aktivitas dua ekor macan yang berkeliaran di dekat permukiman warga. Ukurannya besar dan kecil. Kemungkinan salah satu di antaranya adalah sang induk, dan yang kecil merupakan anaknya,” kata Titik saat diwawancarai solopos.com terkait serangan macan Gunung Lawu, Rabu (5/12/2018).

Dia menyampaikan BKSDA Jateng akan tetap mamasang perangkap di dekat permukiman warga dengan harapan bisa menangkap macan Gunung Lawu yang tengah berkeliaran. Titik menyatakan, BKSDA Jateng tidak akan melakukan perburuan macan hingga ke atas Gunung Lawu.

“Saya mendukung langkah warga Beruk yang sepakat untuk mencegah pemburu masuk hutan lindung. Saya berharap keputusan warga ini dicontoh oleh warga di wilayah lain. Pasalnya, langkah ini bisa berdampak baik terhadap ketersediaan makanan untuk macan, termasuk keselamatan macan itu sendiri,” jelas Titik.

Sementara itu, Kadus Pondok Pengkok Desa Beruk, Jatiyoso, Giyono, 24, menyampaikan hingga Rabu siang, warga Pondok Pengkok tidak lagi mendapati peristiwa hewan ternak mati karena diterkam macan. Meski demikian, warga Dusun Pondok Pengkok tetap akan terus meningkatkan kewaspadaan.