Eksekusi Tanah Kentingan Baru Solo Ricuh

Ricuh sengketa lahan di Kentingan Baru, Kamis (6/12 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
06 Desember 2018 10:15 WIB Mariyana Ricky P.D./Septina Arifiani Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Proses eksekusi tanah Kentingan Baru, Jebres, Solo, Kamis (6/12/2018), ricuh. Sejumlah warga menutup pintu masuk kampung mereka. Beberapa di antaranya ditangkap pihak berwajib karena melempari petugas dengan batu.

Menurut laporan wartawan Solopos, Mariyana Ricky P.D., di lokasi, beberapa warga terlihat membakar ban bekas di depan gang masuk kampung untuk menghalau pengosongan lahan.

Warga menolak pengosongan lahan karena percaya tanah Kentingan Baru berhak mereka tempati. Warga meminta BPN, Satpol PP Solo, maupun pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan Kentingan Baru mematuhi proses hukum.

Warga telah mengantongi bukti memenangi kasus perdata tanah Kentingan Baru di Pengadilan Negeri (PN) Solo dan Pengadilan Tinggi (PT) Semarang.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, sesepuh warga Kentingan Baru, Andreas Andaey, 79, mengatakan warga mulai mendiami Kentingan Baru sejak 1999. Menurut dia, lahan Kentingan Baru dulu seperti hutan.

Sebelum membangun rumah, warga memangkas pohon yang tumbuh. Laki-laki asal Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), tersebut menyebut baru empat tahun setelah itu muncul kabar ada yang mengkalim memegang sertifikat tanah Kentingan Baru.

Dia meragukan keabsahan sertifikat itu. Jika memang ada sertifikat dari awal, menurut Andaey, Wali Kota Slamet Suryanto jelas tidak akan mengizinkan warga membangun rumah di Kentingan Baru.

Andaey mengatakan warga yang menempati lahan Kentingan Baru dari dulu sebenarnya ingin mengurus sertifikat tanah. Namun, menurut dia, warga kesulitan mengakses layanan tersebut.

Warga Kentingan Baru tak pernah diakui pemerintah. Warga bahkan hingga sekarang belum memiliki KTP dengan alamat Kentingan Baru.

Warga juga tidak difasilitasi untuk membuat kepengurusan Rukun Warga (RW) di Kentingan Baru oleh pemerintah dengan alasan menempati tanah sengketa.