Eksekusi Kentingan Baru Solo, Pemilik Lahan Kerahkan 300 Orang

Suasana eksekusi lahan Kentingan Baru, Jebres, Solo, Kamis (6/12 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
06 Desember 2018 12:15 WIB Mariyana Ricky P.D./Suharsih Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Eksekusi lahan Kentingan Baru belakang kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) di Jebres, Solo, terus berlangsung kendati diwarnai kericuhan.

Pemilik lahan mengerahkan sekitar 300 warga sekitar untu membantu proses eksekusi. Sementara warga juga mendapat pendukung dari kalangan mahasiswa yang berdatangan.

Di sisi lain, polisi mengerahkan sekitar 240 personel untuk mengamankan jalannya eksekusi. Pantauan wartawan Solopos, Mariyana Ricky P.D., sekitar pukul 11.00 WIB, dua alat berat (backhoe) masih beroperasi membongkar bangunan milik warga.

Sempat terjadi aksi saling lempar batu antara warga yang didukung mahasiswa dengan orang-orang yang dikerahkan oleh pemilik lahan untuk membantu proses eksekusi. Orang-orang dari kubu eksekutor itu mengenakan pakaian hitam.

Kuasa hukum pemilik lahan, Haryo Anindhito Setyo Mukti, mengakui mengerahkan masyarakat untuk membantu proses eksekusi itu. Ada 300 orang warga sekitar yang disebutnya sebagai Masyarakat Peduli Kentingan Baru yang ikut membantunya.

“Tidak dibayar tapi ya sekadar kami kasih makan dan minum kan kami minta bantuan,” kata dia.

Haryo menambahkan pemilik lahan ingin hari ini juga lahan bersih tanpa bangunan.

Sementara itu, Wakapolresta Surakarta, AKBP Andy Rifai, mengatakan ada 240 personel yang dikerahkan untuk membantu mengamankan lokasi saat eksekusi lahan Kentingan Baru.

"Kami diminta membantu oleh pemilik dan Satpol PP, untuk pengamanan eksekusi lahan. Sebelumnya sudah ada negosiasi, pembicaraan-pembicaraan antara penghuni dan pemilik lahan serta Pemkot. Warga juga sudah menerima kompensasi untuk segera meninggalkan tempat," jelas Andy.

Andy menegaskan kedatangan polisi hanya mengamankan lokasi dan membantu warga memindahkan barang-barang mereka saat pengosongan bangunan. Soal aksi penolakan dari warga, Andy mengatakan memang ada beberapa warga yang menolak.

Namun, dia mengatakan warga sudah mendapat solusi berupa ganti rugi. "Warga juga sudah diberi waktu oleh pemilik lahan, kemudian hari ini, pemilik lahan ingin agar dilakukan pengosongan lahan," jelas Andy.