Ini Rincian Tarif Air PDAM Sukoharjo Naik Per Januari 2019

Ilustrasi air bersih (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
06 Desember 2018 08:00 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Tarif air minum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Makmur Sukoharjo naik per Januari 2019 mendatang. Kenaikan mencapai 6% hingga 7%. Kenaikan itu dilakukan akibat peningkatan biaya operasional perusahaan dan upaya peningkatan cakupan layanan.

“Kenaikan didasari dari kajian masa berlaku tarif lama. Tarif lama sudah berlaku sejak 2015 dan tertuang dalam Perbup No. 27/2015 tentang Tarif Air Minum PDAM Tirta Makmur Sukoharjo,” ujar Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan PDAM Sukoharjo, Retno Wardani, mewakili Direktur PDAM Sukoharjo, Muhammad Mahfud Faozi di kantornya, Rabu (5/12/2018)

Menurut Retno, tarif lama sudah berjalan empat tahun sehingga dilakukan perbaikan. Dia menambahkan PDAM Sukoharjo mengelompokkan pelanggan dalam empat klasifikasi, yakni klasifikasi rumah tangga I (RT I) penggunaan air sejumlah 10 m3 senilai Rp27.850 naik menjadi Rp29.500, RT II dengan penggunaan 10 m3 dari Rp35.000 menjadi Rp37.500, RT III dengan penggunaan 10 m3 semula Rp43.800 menjadi Rp46.500 dan RT 4 dengan penggunaan air sebanyak 10 m3 dari Rp48.750 menjadi Rp52.500.

“Rata-rata kenaikan senilai Rp1.650 hingga Rp2.500 atau enam persen hingga tujuh persen,” imbuh dia.

Retno menyatakan tarif penggunaan air 15 meter kubik ke atas juga berbeda sesuai dengan klasifikasi. Dia menyatakan pihaknya sudah membagikan brosur kenaikan tarif baru dan melayani keluhan pelanggan melalui call centre. “Apabila ada pelanggan yang keberatan silakan mengajukan surat keberatan nanti dikaji. Kami menerapkan prinsip transparansi dan menjaga kualitas air,” papar dia.

Sementara Kabag Hubungan Langganan, PDAM Sukoharjo, Bambang Surat, menyatakan selain menambah jaringan perpipaan dibutuhkan ketersediaan sumber air baku. Selama ini air baku PDAM berasal dari Sungai Bengawan Solo dan sumur dalam. “PDAM juga melayani pelanggan dari masyarakat berpenghasilan rendah [MBR].”