Yayasan Harmoni Berikan Bantuan Kursi Roda dan Beasiswa

Yayasan Harmoni menyerahkan bantuan program Harmoni Peduli kepada warga Desa Pulosari, Rabu (5/12/2018)./Istimewa - Dokumentasi Yayasan Harmoni
06 Desember 2018 20:45 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Yayasan Harmoni menyalurkan bantuan kepada sejumlah warga di Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Rabu (5/12/2018). Penyaluran bantuan termasuk bagian dari program kepedulian sosial Yayasan Harmoni yakni Harmoni Peduli.

Project Manager Yayasan Harmoni, Albertin Yesica Stevani T., menyampaikan enam warga Dusun Karangkidul menerima bantuan sesuai kebutuhan. Perinciannya empat pelajar terdiri dari tiga pelajar kelas XII SMA dan satu pelajar kelas IX SMP. Sisanya dua orang penerima bantuan adalah anak TK dan penyandang disabilitas.

"Beasiswa untuk anak sekolah, perlengkapan sekolah untuk anak TK, dan bantuan kursi roda untuk anak berkebutuhan khusus. Semua warga Dusun Karangkidul. Total enam penerima," kata Sica, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Yayasan Harmoni membayar tunggakan dan melunasi biaya sekolah per bulan hingga Juni 2019 empat pelajar itu. Data calon penerima bantuan berdasarkan usulan setiap ketua RT di Dusun Karangkidul. Sebanyak 22 orang dengan kategori anak yatim dan atau piatu, anak berkebutuhan khusus, anak dari keluarga tidak mampu, dan anak memiliki tunggakan sekolah.

"Kami seleksi. Ada yang sudah pernah mendapat bantuan, kami sisihkan. Kami ambil sesuai prioritas, disesuaikan kondisi keluarga, dan kebutuhan calon penerima. Hasilnya enam orang. Ini penyaluran tahap kedua. Tahap pertama juga untuk anak sekolah disalurkan pada Juni," ujar dia.

Nominal bantuan untuk satu penerima dan penerima yang lain berbeda sesuai kebutuhan. Sica berharap bantuan tersebut dapat bermanfaat dan sedikit meringankan beban. Sica bercerita latar belakang penerima bantuan. "Ada anak sekolah piatu, bapaknya buruh lepas dengan bayaran harian. Rata-rata ibu tidak bekerja dan bapak berjualan dengan modal kecil. Dia bukan anak satu-satunya sehingga bayaran sekolah menunggak," ungkap perempuan berkaca mata itu.

Salah satu penerima bantuan adalah anak TK, Bintang Adi Yuliana, 5. Dia tinggal bersama kerabat ayahnya, Sugiyanti. Sejak kecil Bintang tidak kenal ibunya. Sugiyanti pun tidak mengetahui keberadaan ibunya. Sugiyanti hidup sebatang kara dan tidak berpenghasilan.

"Dia [Bintang] panggil saya Mbokdhe. Dulu saya kerja tetapi sekarang enggak. Kebutuhan sehari-hari, makan, dan lain-lain mengharapkan bantuan dari tetangga dan saudara. Bapaknya [Bintang] hampir enggak pernah pulang. Pernah kirim uang Rp300.000 dua kali itu untuk setahun. Saya enggak tahu bapaknya kerja apa," ujar perempuan lanjut usia itu.

Penerima bantuan lain, Ferry Nur Rahman, 18. Lelaki penyandang disabilitas itu putra bungsu Sumiyem. Dia terdeteksi sakit pada umur dua bulan. Saat itu Ferry kejang dan koma di ICU selama satu bulan. Dokter mendiagnosis penyumbatan otak kecil. Sumiyem mengaku mendapatkan bantuan program keluarga harapan (PKH) dan kursi roda saat Ferry berusia lima tahun.

"Kursi rodanya dipinjam orang lain. Hari ini saya dapat dari Yayasan Harmoni. Senang banget itu impian. Saya bisa ajak anak jalan-jalan dan berjemur. Dia [Ferry] sudah enggak terapi sejak umur 17 tahun karena sudah enggak berfungsi," tutur dia.

Sumiyem mencurahkan isi hati kehidupannya dahulu. Terutama saat menghadapi tatapan dan omongan sejumlah orang terhadap dirinya dan Ferry. Ditambah kondisi ekonomi belum stabil karena harus membiayai anak sulung sekolah dan rutin mengobatkan Ferry. Sekarang anak sulung berusia 25 tahun dan sudah bekerja. Dia membantu ekonomi keluarga.

"Saya pingin anak seperti ini [berkebutuhan khusus] diperhatikan sungguh-sungguh oleh pemerintah. Saat ekonomi tidak kokoh, ibarat enggak makan enggak apa-apa yang penting anak mendapat pengobatan. Belum lagi menghadapi tatapan masyarakat. Itu berat. Bantuan itu seperti es menyiram hawa panas, membuat tenang," cerita dia.