Keluarga Menolak, Pengidap AIDS Dikirim ke Selter di Solo

Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) bermain bersama aktivis peduli HIV/AIDS yang mengenakan kostum Superman di halaman Rumah ADHA Lentera Solo, Jumat (30/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
07 Desember 2018 21:32 WIB Ratih Kartika Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Ketua LSM Gaya Mahardika, Yuwono Dedi Sewoko, menceritakan rencana kedatangan satu pasien baru setelah diberi tahu Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah melalui sambungan telepon, Kamis (6/12/2018) pagi. Yuwono mengatakan pasien tersebut sebelumnya tidak diterima keluarga. "Usianya [calon pasien] baru 29 tahun. Kondisi sudah AIDS, mungkin stadiumnya sudah di level II ya. Karena sudah timbul infeksi opportunities [infeksi yang menyertai atau infeksi penyerta]," jelas Yuwono.

Yuwono menjelaskan infeksi penyerta yaitu infeksi yang menyertai ketika seseorang masuk fase AIDS. Yuwono juga mengatakan pada kondisi tersebut, pasien memiliki kekebalan tubuh yang rendah sehingga memunculkan jamur maupun infeksi lainnya. "Mudah-mudahan enggak TB [tuberkulosis] ya. Setelah pasien sampai, akan saya koordinasikan dengan RSUD dr. Moewardi dan Dinas Sosial Kota Solo dan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Solo," jelas Yuwono.

Belum jelas kapan pasien itu akan tiba di selter Gaya Mahardika. Hal itu masih dibahas di Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. "Sementara ini kami juga belum ada anggaran untuk membiayai kehidupan sehari-harinya [calon pasien]. Nanti kami cari pendanaan dulu, siapa yang peduli," kata Yuwono.

Informasi yang diterima Yuwono, pengidap AIDS itu masih bisa beraktivitas seperti biasanya. "Kalau masih bisa beraktivitas, kemungkinan untuk pulih masih banyak karena di sini [selter Gaya Mahardika] nanti dipantau pengobatannya dan asupan vitaminnya disuplai," ujar Yuwono.

Jadi PSK

Pasien satu-satunya di selter Gaya Mahardika, Mawar (nama samaran), mengatakan sebelum didiagnosis mengidap HIV, dia menjadi pekerja seks komersial (PSK) di Kediri, Jawa Timur dan Bali. Mawar menjadi PSK  saat berumur 30 tahun. "Pas saya didiagnosis HIV setelah tes urine dan darah saya takut untuk memberi tahu siapa pun yang ada di Panti [Rehabilitasi Bina Karya]. Tapi lama-kelamaan saya juga takut kalau sakit saya pendam terus, saya enggak dapat obat. Sakit saya bisa tambah parah nanti," jelas Mawar.

Mawar kemudian memberi tahu petugas panti tersebut dan dilakukan tes ulang. Tes ulang dilakukan karena sebelumnya Mawar pernah dites dan hasilnya positif. Tes ulang keluar dan Mawar positif HIV tingkat awal. "Saya kemudian dipindah ke Solo [Yayasan Gaya Mahardika] untuk mendapatkan pengobatan ARV [antiretroviral]. Saya di sini juga sudah tidak pernah melakukan hubungan badan lagi dan tidak bekerja lagi [sebagai PSK]," aku Mawar.