Sensasi Melintasi Jembatan Bergoyang di Masaran Sragen

Warga melintasi jembatan gantung Kliwonan melewati Sungai Bengawan Solo di Dusun Kuyang, Desa Kliwonan, Masaran, Sragen, Kamis (6/12 - 2018). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
07 Desember 2018 08:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Suara gaduh terdengar tak jauh dari jembatan gantung Kliwonan yang menghubungkan kawasan Plupuh dengan kawasan Masaran Sragen, Kamis (6/12/2018).

Suara gaduh itu berasal dari benturan seng besi dengan roda kendaraan bermotor yang melintasi jembatan gantung Sungai Bengawan Solo. Jembatan gantung yang diresmikan pada 4 Juli 2002 oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, itu dibangun demi menunjang mobilitas warga di sejumlah desa di Kecamatan Masaran dan Plupuh.

Jembatan gantung sepanjang sekitar 150 meter ini dan setinggi sekitar 25 meter dari dasar sungai di Dusun Kuyang, Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, ini tak pernah sepi dari kendaraan bermotor dan pengendara sepeda angin.

Dalam waktu hampir setengah jam, puluhan sepeda motor atau pengendara sepeda secara bergantian melintasi jembatan gantung itu. Lebar jembatan yang hanya 1,5 meter membuat pengendara motor harus mengantre bila ada pengendara motor lain dari lawan arah.

Pengendara motor pun harus ekstra hati-hati melewati jembatan gantung itu. Pergerakan sepeda motor membuat badan jembatan bergoyang sehingga mempengaruhi keseimbangan laju sepeda motor.

Jembatan gantung ini tentu tidak disarankan dilewati pengendara motor yang ciut nyali. "Bagi yang belum terbiasa pasti ada rasa takut. Saat dilewati jembatan itu bergoyang. Ya harus pintar-pintar mengatur keseimbangan supaya tidak terjatuh. Saya sendiri sudah terbiasa melintasi jembatan ini. Jadi ya tidak ada perasaan takut," papar Suparno, warga Plupuh yang ditemui Solopos.com di lokasi.

Pada awalnya, lantai jembatan gantung itu terbuat dari papan kayu. Namun, seiring berjalannya waktu, papan kayu itu semakin keropos karena kerap terpapar hujan dan terik mentari.

Warga sekitar lalu menggantinya dengan bilah kayu yang baru supaya jembatan itu tidak memakan korban. Beruntung jembatan itu belum pernah menelan korban saat papan kayu keropos.

Guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Pemkab Sragen akhirnya mengganti papan kayu dengan papan seng. Papan seng itu memang lebih tahan lama, namun sambungan seng terkadang retak karena tiap hari dilintasi kendaraan bermotor.

Bila sudah retak, warga buru-buru mengelas papan seng itu supaya keretakan tidak bertambah parah. "Selama ini sih belum ada korban. Paling pengendara motor yang terjatuh karena stang motornya menyenggol tambang besinya. Tapi, motor dan orangnya tidak sampai tercebur ke sungai," papar Yanti, 45, warga setempat.

Hingga kini, peran jembatan gantung itu amat vital bagi warga di dua kecamatan itu. Bila melewati jalur lain yang jauh lebih aman, jarak tempuh bisa berselisih hingga 15 menitan. Warga tak kenal waktu melintasi jembatan itu.

Mulai dari anak sekolah, petani, pedagang, buruh pabrik memilih melintasi jembatan gantung itu menuju lokasi tujuan. Selama 24 jam, jembatan gantung itu tetap tak pernah sepi dari pengendara motor.

"Buruh pabrik yang kerja lembur itu pulang hingga dini hari. Mereka sudah terbiasa lewat jembatan itu meski tanpa penerangan maksimal," jelas Yanti.

Namanya juga produk manusia, cepat atau lambat pasti datang masa apkir. Begitu juga jembatan gantung Kliwonan yang sudah 16 tahun membantu warga menyeberangi Sungai Bengawan Solo yang melegenda itu.

Sejumlah tambang besi yang menghubungkan badan jembatan dengan tebing sungai sudah mengendor karena mengalami pemuaian. Mengendornya tambang besi disinyalir sebagai penyebab makin tingginya getaran saat jembatan itu dilintasi sepeda motor.

Bila tidak ada peremajaan semua komponen secara berkala, kelaikan dari jembatan gantung itu perlu dipertanyakan. Saat ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen sedang mencari jalan keluar untuk membangun jembatan permanen melintasi Sungai Bengawan Solo demi memensiunkan jembatan gantung Kliwonan.

“Kebutuhan dananya sudah pasti besar. APBD tentu tidak mampu. Kami berharap nantinya bisa ditopang oleh bantuan dana dari provinsi. Tapi, hingga kini, belum ada kepastian soal sumber dananya,” jelas Kepala Dinas PUPR Marija saat ditemui di kantornya.