Pemilik Kandang Ayam di Klaten Takut Rugi di Musim Pancaroba

Peternak ayam mengecek kondisi hewan ternaknya di Ngabeyan, Karanganom, Klaten, Kamis (6/12 - 2018). (Solopos/Ponco Suseno)
07 Desember 2018 17:05 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sejumlah pemilik kandang ayam di kawasan Ngabeyan, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, waswas selama musim pancaroba. Mereka mengkhawatirkan terjadi angin kencang yang dapat merobohkan kandang ayam sewaktu-waktu.

Salah satu peternak ayam di Ngabeyan, Heru Adi Nugroho, 36, mengatakan curah hujan di daerahnya tergolong sudah tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Biasanya hujan deras tersebut sering disertai dengan angin kencang. Di sisi lain, kandang ayam miliknya sudah hampir tujuh tahun berdiri.

“Di sini masih berlangsung musim pancaroba. Angin kencang bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Kandang ayam ini kan berada di tengah sawah. Sehingga angin kencang itu berpotensi merobohkan kandang ayam yang ada. Apalagi sewaktu usia kandang ayam sudah menginjak usia tujuh tahun. Kalau roboh, kerugian yang dialami bisa mencapai ratusan juta rupiah,” katanya saat ditemui solopos.com, di kandang ternaknya di Ngabeyan, Karanganom, Kamis (6/12/2018).

Heru Adi Nugroho mengatakan kandang ayam miliknya memiliki ukuran 50 meter X 10 meter. Pembangunan kandang yang bahan utamanya bambu itu menelan biaya senilai Rp100-an juta. Kandang tersebut mampu menampung ayam pedaging sebanyak 5.000 ekor.

“Satu bulan yang lalu, ada kandang ternak di sini roboh gara-gara diterjang angin kencang. Kandang itu milik Pak Untung. Kalau sudah seperti itu, kerugian yang dialami luar biasa. Satu-satunya solusi guna mencegah kandang roboh, harus menyediakan biaya perawatan atau mengganti dengan bambu yang baru,” katanya.

Disinggung tentang harga jual ayam saat ini, Heru Adi Nugroho, mengatakan harga di tingkat peternak masih stabil, yakni senilai Rp19.000-Rp20.000 per ekor. Berbekal harga tersebut, peternak ayam memperoleh keuntungan sangat mepet.

“Ayam saya ini baru berusia satu pekan. Harapannya dapat memasuki musim panen di akhir tahun [saat liburan Natal dan pergantian tahun]. Semoga harga jual nanti bisa di atas Rp20.000 per ekor. Soalnya Break Event Point (BEP)-nya di kisaran Rp18.000 per ekor. Di musim pancaroba ini, biasanya ayam gampang terkena penyakit e-Coli dan cekrek,” katanya.

Pemilik kandang ayam lainnya, Supriyadi, mengatakan salah satu hal yang patut diwaspadai para pemilik kandang selama musim hujan, yakni mencegah terjadinya kandang roboh karena diterjang angin kencang. Setiap pemilik kandang harus memperhatikan usia kandang ayamnya.

“Di sini ada beberapa kandang ayam di tengah sawah. Dalam satu tahun terakhir, sudah ada tiga kandang yang roboh gara-gara diterjang angin kencang. Kami mengimbau peternak kandang untuk selalu menyiapkan anggaran perawatan kandang setiap tahunnya,” kata Supriyadi yang juga sebagai kepala desa (kades) di Ngabeyan tersebut. 

Silakan KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Madiun Raya