Cerita Pendiri Istana Parnaraya Wonogiri Kunjungi 28 Lansia Dalam Sehari

Istana Parnaraya yang dibangun pengusaha sukses Wonogiri di Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Kamis (6/12 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
07 Desember 2018 12:15 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Bangunan megah seluas 200 meter persegi bercat putih dengan lima pilar menjulang tampak kontras dengan tanah merah tempatnya berdiri. Kontras itu kian terlihat dengan bangunan-bangunan di sekitarnya yang terlihat kusam di Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri.

Oleh pemiliknya, Suparno, 48, bangunan itu menjadi simbol penghormatan, lambang bakti anak kepada orang tua. Di lahan seluas 2.400 meter persegi itu, para warga lanjut usia (lansia) berkumpul sebulan sekali.

Mereka mengikuti senam lansia, berdoa bersama, perjamuan makan, hingga pemeriksaan kesehatan gratis. Setiap tanggal 22 setiap bulan, 610 lansia tersebar di Sidoharjo, Girimarto, Girimarto, dan Wonogiri, menerima santunan dari Suparno, seorang pengusaha asal Wonogiri yang sukses di Jakarta.

Ada 26 sukarelawan yang membantu Suparno mendistribusikan santunan ke rumah-rumah. Saat Suparno pulang kampung, ia mengundang para warga lansia dan memulai perjamuan.

“Saya siapkan mobil khusus untuk menjemput mereka satu per satu. Itu pun hanya yang kuat dan mau. Kami enggak memaksa,” ujar Suparno saat berbincang dengan wartawan di Istana Parnaraya, Desa Kebonagung, Sidoharjo, Kamis (6/12/2018).

Perbincangan berlanjut dengan berziarah ke masa sewindu lalu saat ia pulang kampung pada 2010. Ia membikin perusahaan batik berbasis edukasi masyarakat.

Sejumlah pemuda desa yang menganggur, dilatih membatik ke Laweyan, Solo. Setelah itu, mereka kembali ke Wonogiri, mengajari teman lainnya seraya bikin batik. Merek batiknya Parnaraya dibuat dengan teknik batik tulis dan sebagian cap.

“Dulu sempat melibatkan 102 orang. Sekarang tinggal 80-an orang karena sebagain bertani atau merantau."

Dari hasil kerja dan usahanya, pada 2013, ia mulai menyantuni warga lansia berusia 70 tahun ke atas sebanyak 270 orang. Para lansia penasaran siapa orang yang menyantuni mereka selama ini.

Rasa penasaran itu terjawab saat Suparno menyambangi rumah para lansia satu demi satu. Dalam sehari, ia hanya bisa mendatangi 28 rumah dimulai dari pukul 08.00 WIB-15.00 WIB.

“Itu pun besok paginya saya meriang karena kembung minum teh manis hampir di setiap rumah. Diminum gimana, enggak diminum gimana,” kenang dia seraya terkekeh.

Dari situlah tercetus bikin Istana Parnaraya pada 2014. Bangunan itu selesai pada September 2017. “Rumah ini penghormatan kepada orang tua. Di Wonogiri, banyak orang tua ditinggal anak merantau. Ada pula yang sakit dan ditinggal anaknya. Setiap bulan, mereka berkumpul di sini. Ini istananya orang tua untuk menghormati dan melayani mereka,” tutur pria kelahiran Wonogiri, 4 Juni 1970.

Untuk masuk ke Istana Parnaraya, pengunjung dikenai tiket sedekah Rp5.000. Dari uang itu Rp4.500 sebagai santunan kepada lansia dan sisanya kembali ke negara berupa retribusi.

Pada puncak liburan, pengunjung bisa menembus 1.500 orang per hari. Dari tiket masuk menyumbang sekitar 10-15 persen dana santunan. Sisanya, berasal dari kantong pribadi Suparno.

“Ticketing itu pun saran dari pemerintah daerah. Di sini bukan cari uang, tapi pelayanan,” ujar bapak dua putra itu.

Disinggung soal misinya setelah menyantuni warga lansia, pengusaha bidang otomotif itu mengaku ingin membantu menggerakkan ekonomi lokal. Ia undang pakar dari luar, untuk memberikan pelatihan kepada warga sekitar.

“Saya ingin orang Wonogiri enggak hijrah [merantau] semua. Dari sini juga semoga bisa lahir istana-istana lansia di daerah lain. Mari kita cintai dan hormati orang tua,” harap Suparno.

Salah satu pengunjung, Agnes Christina, 27, asal Solo, mengaku kagum melihat arsitektur dan interior Istana Parnaraya. Ia tak menyangka di tengah kampung di Wonogiri ada bangunan megah menyerupai istana presiden.

“Tempatnya nyaman, adem. Saya dengar, ini tempatnya lansia. Tempatnya seru buat foto-foto,” ujar dia Agnes.