Saluran Air Tercemar Limbah, Ikan-Ikan Piaraan Warga Pemukti Baru Klaten Mati

Pipa mengalirkan air limbah rumah tangga serta industri di Dukuh Plaosan, Desa Taji, Prambanan, Klaten, Jumat (7/12 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
09 Desember 2018 15:35 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Warga Dukuh Pemukti Baru, Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten, mengeluhkan pencemaran pada saluran air di wilayah mereka. Selain menimbulkan bau, pencemaran juga membuat ikan milik warga mati.

Sekitar sembilan warga memiliki usaha ternak ikan dengan memanfaatkan aliran air saluran Borongan yang melintas di Dukuh Pemukti Baru. Akibat pencemaran tersebut, pemilik ternak ikan mengaku rugi belasan hingga puluhan juta rupiah.

Salah satu peternak ikan, Ngatijo, 55, mengatakan sekitar sebulan lalu ikan nila berumur enam bulan seberat 5 kuintal yang ia pelihara mati. Ia kembali merugi setelah 1 kuintal ikan bawal berumur empat bulan yang ia pelihara juga mati sekitar tiga hari lalu.

“Total kerugian ditaksir Rp30 juta,” kata dia saat ditemui di tempat usahanya, Jumat (7/12/2018) sore.

Ngatijo sudah menjalankan usaha ternak ikan sejak setahun terakhir. Ia mengaku kerap merugi lantaran ikan-ikan yang dipelihara mati.

Ngatijo menjelaskan peternak ikan lainnya mengalami hal serupa yakni banyak ikan di kolam yang mati. Mereka juga memanfaatkan air dari saluran Borongan. “Paling banyak yang mati ya akhir-akhir ini,” ungkapnya.

Soal penyebab matinya ikan, ia tak bisa memastikan. Namun, selama ini saluran kerap tercemar. Saban hari, air limbah mengalir ke saluran tersebut mulai sore hingga malam.

Air yang sebelumnya bening berubah keruh. Air kembali bening saat dini hari. Guna mengantisipasi agar tak merugi lebih besar, Ngatijo menutup saluran air ketika limbah mulai mengalir.

Ia baru membuka setelah memastikan tak ada lagi limbah yang mengalir. “Kalau asalnya [limbah] dari mana saya tidak tahu pasti. Yang jelas mulai sore itu air saluran sudah berubah,” urai dia.

Salah satu warga Dukuh Pemukti Baru, Sudiman, 71, mengatakan mulai sore hari saluran air kerap berwarna keruh. Selain keruh, air juga berbau tak sedap hingga mengganggu warga yang tinggal berdekatan dengan saluran tersebut.

“Kalau sudah berbau saya biasanya langsung masuk ke rumah dan pintu ditutup,” ungkapnya.

Kaur Pembangunan Desa Tlogo, Maryono, mengatakan saluran air tercemar limbah yang berbau sekitar tiga tahun terakhir. Ia juga tak menampik selama tiga tahun tersebut banyak ikan milik warga yang mati.

“Saat siang itu airnya bersih. Namun, mulai sore air sudah berubah dan berbau,” jelas dia.

Terkait sumber pencemaran, ia juga belum bisa memastikan. Namun, ia tak menampik di wilayah lebih atas dari saluran tersebut terdapat sejumlah tempat usaha yang diduga membuang limbah ke sungai.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, saluran air melintasi lahan persawahan. Sebagian rumah warga Dukuh Pemukti berada di depan saluran tersebut.

Selain rumah, di tepi saluran terdapat gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Air di saluran tersebut berasal dari sungai, oleh warga setempat sungai itu diberi nama Kali Sat.

Berdasarkan penelusuran Solopos.com, Jumat sore, kondisi air sungai keruh berwarna putih kebiruan serta berbau tak sedap. Di wilayah lebih atas perbatasan dengan Desa Tlogo, sungai itu melintas wilayah Dukuh Plaosan, Desa Taji, Kecamatan Prambanan, Klaten.

Di tepi sungai dukuh setempat, terdapat pipa-pipa yang mengalirkan air berwarna putih serta berbuih ke sungai. Sejumlah warga mengatakan air yang dibuang ke saluran berasal dari limbah rumah tangga serta sejumlah tempat usaha tahu serta bakpia.

Di Dukuh Plaosan, ada sekitar lima usaha pembuatan tahu. Salah satu pemilik tempat usaha tahu, Ben, 53, mengatakan limbah yang dibuang ke sungai merupakan tetesan air hasil olahan kedelai.

Selama 10 tahun membuka usaha tahu di Dukuh Plaosan, ia mengaku tak pernah menerima komplain. Pengusaha tahu lainnya, Wawan, 40, juga mengatakan selama ia memiliki usaha pembuatan tahu di Plaosan dua tahun terakhir tak ada komplain atau keluhan dari limbah yang dihasilkan.

“Kalau memang limbah yang dihasilkan mencemari, silakan dicek ke laboratorium. Kami justru merasa senang,” urai dia.