Bukit Plirikan Wonogiri Dulunya Tempat Mengintai Pasukan Belanda

Bukit Plirikan atau Puthuk Plirikan di Dukuh Susukan, Desa Pare, Selogiri, Wonogiri, Jumat (7/12 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
09 Desember 2018 22:15 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Bukit menjulang berjarak delapan kilometer (km) dari pusat kota Wonogiri menjadi saksi bisu perjuangan Indonesia melawan Belanda. Bukit itu pernah dipakai untuk mengintai pergerakan pasukan Belanda sehingga diberi nama Bukit Plirikan.

Bukit Plirikan (warga setempat juga menyebutnya Puthuk Plirikan) berada di Dusun Susukan, Desa Pare, Selogiri. Saat agresi militer Belanda II pada Desember 1948, pasukan TNI bergerak ke hutan untuk membangun pertahanan.

Dusun susukan lantas menjadi salah satu basis pertanan TNI di Wonogiri. “Di sektor lain juga ada pertahanan TNI. Tapi yang terbesar ada di desa saya. Warga menyebut serangan itu sebagai krutuk londo,” kata Kepala Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Sugeng, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (7/12/2018).

TNI lalu memanfaatkan bukit itu mengintai pergerakan pasukan Belanda. Setiap informasi pergerakan dikabarkan ke pos lain agar bersiaga. Cara mengabarkan pergerakan itu dengan menegakkan bambu di puncak bukit.

Jika pasukan Belanda bergerak ke selatan, tiang bambu itu doyongkan ke arah selatan. Jika pasukan bergerak ke barat, bambu didoyongkan ke arah barat. Begitu seterusnya.

“Kalau sekarang mungkin mirip bendera. Dulu itu blekete [semacam anyaman] dari blarak [daun pohon kelapa yang kering] dan bambu. Blekete itu diarahkan seusai arah pergerakan musuh,” terang Kades Sugeng.

Upaya pengintaian itu kemudian orang menyebut mlirik atau melirik. Dengan kata lain, bukit dipakai untuk melirik musuh. “Orang-orang lalu menyebutnya puthuk plirikan,” ujar dia.

Bukit itu kini dimanfaatkan Pemerintah Desa untuk objek wisata swafoto Plirikan Mountain Park. Di sana dibangun sejumlah fasilitas seperti gardu pandang, rumah pohon, taman, hingga gazebo.