Siaga Banjir, BBWSBS Buka 3 Posko Lengkap dengan Karung Pasir

Apel Kesiapsiagaan Bencana Banjir 2018 dan penanaman pohon di tanggul Kali Kongklangan, Desa Cucukan, Prambanan, Klaten, Minggu (9/12 - 2018). (Istimewa/Humas Setda Klaten)
10 Desember 2018 07:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menyiagakan tiga posko siaga bencana di sepanjang alur Sungai Bengawan Solo. Ketiga posko itu untuk antisipasi cepat ketika terjadi bencana terutama banjir.

Sementara itu, sukarelawan dari berbagai unsur mengikuti Apel Kesiapsiagaan Bencana Banjir 2018 dan penanaman pohon di tanggul Kali Kongklangan, Desa Cucukan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Minggu (9/12/2018) pagi.

Apel digelar untuk membangun kesepahaman dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana serta bagian dari gerakan pemulihan subdaerah aliran sungai (DAS). Kegiatan digelar BBWSBS bekerja sama dengan Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDHL) Solo.

Apel juga diikuti diikuti berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), TNI, dan Polri. Dalam apel itu juga dilakukan aksi bersih-bersih di sepanjang Kali Kongklangan serta penanaman pohon secara simbolis.

Jumlah total pohon yang ditanam di sepanjang tanggul sungai yang bermuara di Sungai Dengkeng tersebut sebanyak 6.000 pohon terdiri dari 5.000 pohon sengon serta 1.000 pohon buah-buahan.

Kabid Operasi dan Pemeliharaan BBWSBS, Nova Dorma Sirait, menjelaskan apel digelar untuk menumbuhkan kerja sama antara pemerintah dengan berbagai unsur masyarakat. Hal itu diperlukan lantaran penanganganan bencana tak hanya bergantung dari unsur pemerintah.

“Kami tidak bisa memprediksi banjir kapan akan datang. Kesiapsiagaan sangat perlu dan saling koordinasi dari berbagai unsur sehingga penanggulangan bisa dilakukan dengan sangat cepat,” kata Nova.

BBWSBS sudah menyiapkan langkah tanggap darurat antisipasi bencana salah satunya banjir memasuki musim hujan. Salah satunya dengan membentuk satuan tugas (satgas) di tiga posko sepanjang Sungai Bengawan Solo yakni Solo, Madiun, dan Bojonegoro. Ketiga posko itu mulai disiagakan sejak 1 Oktober.

Satgas masing-masing posko sudah menyiapkan beronjong, karung pasir, serta alat berat. Dari posko itu, penanganan bencana di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo bisa dilakukan dalam waktu cepat.

“Setiap lokasi rata-rata sudah disiapkan 3.000 beronjong serta karung pasir cukup banyak. Kami minta semua posko siaga,” jelas dia.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, meminta para camat terus memantau perkembangan debit sungai di masing-masing wilayah memasuki musim hujan kali ini. Ia juga meminta camat bisa menggerakkan masyarakat untuk melakukan aksi kesiapsiagaan terhadap bencana termasuk banjir apalagi ada sejumlah wilayah di Klaten yang menjadi langganan banjir akibat luapan air sungai ketika musim hujan.

Terkait aksi apel kesiapsiagaan bencana banjir, Mulyani berharap tak sebatas seremonial melainkan bisa ditindaklanjuti dengan berbagai aksi nyata seperti bersih-bersih sungai secara rutin.

Ia menjelaskan kepedulian warga merawat sungai tak hanya menghindarkan dari banjir. Aksi kepedulian warga terhadap sungai juga membuahkan prestasi seperti yang diraih Komunitas Kali Ujung di Kecamatan Wedi yang menjadi juara I Lomba Komunitas Peduli Sungai Nasional.

“Memang belum semua sungai di Klaten itu bebas dari sampah. Saya berharap dimulai dari Prambanan bisa menyebarkan virus-virus positif peduli sungai ke kecamatan lainnya,” kata Mulyani.

Sementara itu, Camat Prambanan, Suhardi, mengapresiasi aksi bersih sungai hingga penanaman pohon di sepanjang tanggul Kali Kongklangan. Selain bisa dimanfaatkan warga, ia berharap dengan aksi tersebut bisa menumbuhkan kesadaran warga untuk peduli terhadap sungai.

“Sebelumnya itu kawasan tanggul tidak dikelola. Dengan penanaman ini harapannya lebih tertata dan menjadi hutan desa,” urai dia.