Pilkades di Sukoharjo: Cakades Muda Tumbangkan Petahana

Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya dan Forkopinda Sukoharjo mengunjungi tempat pemungutan suara (TPS) di Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (11/12 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
13 Desember 2018 09:40 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO –Sebagian calon kepala desa (cakades) petahana atau incumbent tumbang pada pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak di 125 desa. Muncul figur calon baru dari kalangan muda yang digdaya menggulingkan calon petahana.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Rabu (12/12/2018), figur tokoh baru yang maju sebagai cakades mampu berbicara banyak saat pelaksanaan pemungutan suara pada Selasa (11/12/2018). Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi dan pendidikan namun mampu merebut simpati pemilih.

Dominasi kedigdayaan calon baru sangat kentara saat proses rekapitulasi hasil penghitungan suara di wilayah Polokarto. Dari 13 desa yang menggelar pilkades delapan di antaranya dimenangi cakades baru. Separuh lebih calon petahana tumbang lantaran tak bisa bersaing dengan kandidat lain dalam penghitungan suara.

Tak sedikit para calon baru merupakan kalangan muda. Mereka termotivasi maju sebagai cakades lantaran menginginkan perubahan di sistem pemerintahan desa. “Para pemuda sama sekali tak pernah tersentuh berbagai program kegiatan desa. Padahal, bantuan dana desa yang diterima setiap desa ratusan juta rupiah,” kata cakades Tegalsari, Kecamatan Weru terpilih, Nugroho Dwi Susilo, saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Nugroho bersama pemuda setempat lantas membentuk paguyuban yang anggotanya mayoritas kawula muda. Mereka aktif melakukan kegiatan sosial dan pemberdayaan pemuda di desa setempat. Hal ini mampu menarik simpati masyarakat lain yang berimplikasi saat coblosan.

Nugroho mampu meraih 1.252 suara mengungguli tiga kandidat lainnya termasuk calon petahana yang hanya meraup 926 suara. “Kendati berumur muda, saya berkomitmen membangun kampung halaman dengan melibatkan elemen masyarakat. Saya bakal adaptasi dan belajar untuk mengelola roda pemerintahan desa,” papar dia.

Namun, calon petahana juga masih berjaya di sejumlah desa. Di Kecamatan Nguter, mayoritas calon petahana mampu mendulang suara terbanyak saat coblosan. Calon petahana mengungguli kandidat lainnya di Desa Juron, Nguter, Kepuh, Jangglengan, Serut, Daleman, Lawu, Pengkol dan Pondok. Hanya tiga desa yang calon petahananya tumbang yakni Desa Plesan, Kedungwinong dan Tanjungrejo.

Persaingan sengit antarkandidat tak hanya melibatkan calon petahanda dan baru namun juga mantan kepala desa. Di sejumlah desa, mantan kepala desa bersaing sengit dengan calon petahana. Mereka bisa mengunci kemenangan setelah meraih suara terbanyak di sejumlah lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Mantan kepala desa yang berhasil memenangi pesta demokrasi terbesar di Sukoharjo yakni Sudadiyo di Desa Gentan, Bendosari dan Mujiman di Desa Trangsan, Gatak. “Dorongan masyarakat agar saya kembali maju [cakades] luar biasa. Saya ingin memperbaiki kualitas pelayanan terhadap masyarakat serta menjaga potensi kerajinan rotan di Desa Trangsan,” tutur Mujiman.

Mujiman unggul telak di lima lokasi TPS dengan total jumlah perolehan suara sebanyak 2/938 suara. Sementara calon petahana, Sriyana hanya meraup 1.327 suara saat pemungutan suara. Sementara ketiga calon lainnya masing-masing Agus Jaka Wardoyo meraih 11 suara, Waluyo 189 suara dan Dyah Ayu Wulandari 54 suara.

Sementara itu, Kepala Bagian Pemerintah Desa Setda Sukoharjo, Setyo Aji Wibowo, menyatakan kasus dugaan politik uang atau money politic tidak diatur dalam Perbup No 51/2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 10 /2015 Tentang Kepala Desa. Kasus itu dirampungkan di tingkat pengawas pilkades kecamatan setempat.

Begitu pula dengan kasus pelanggaran pemungutan suara di Desa Blimbing, Kecamatan Gatak. “Kasus itu telah dirampungkan oleh pengawas pilkades kecamatan. Jadi pelanggaran pemungutan suara termasuk praktik money politic tidak diatur dalam regulasi. Aturannya memang seperti itu,” kata dia.