Momen 2 Puting Beliung Ratakan Gubuk Mbah Sumiyem di Sumberlawang Sragen

Seorang warga melintas di depan rumah Sumiyem, 70, yang ambruk setelah diterjang puting beliung di Dukuh Clupak RT 021, Desa Mojopuro, Sumberlawang, Sragen, Sabtu (15/12 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
15 Desember 2018 21:20 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Ganasnya angin puting beliung yang melanda Desa Mojopuro, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jumat (14/12/2018) sore, masih muncul dalam ingatan Sumiyem, 70. Akibat terjangan angin, harapan Sumiyem untuk menempati rumah baru yang dibangunkan anak keduanya pupus.

Rumah berfondasi setinggi 50 cm dari permukaan tanah itu ambruk rata tanah setelah tersapu angin puting beliung saat hujan deras mengguyur tempat tinggalnya di Dukuh Clupak RT 021, Desa Mojopuro, Sumberlawang, Sragen, Jumat (14/12/2018) sore.

“Sampai sekarang masih gemetar. Saya melihat langsung angin yang bergulung-gulung bewarna abu-abu yang tebal. Bahkan untuk melihat daratan saja dalam radius 2-3 meter tidak kelihatan saking tebalnya. Saya berlari keluar rumah sambil menarik cucu laki-laki saya, Fikih, yang baru berumur tujuh tahun. Saya berteriak kencang. Kok omahku ambruk iki piye?” kisahnya saat ditemui Solopos.com, Sabtu (15/12/2018) siang.

Sumiyem mendengar suara ambruknya rumahnya yang terletak hanya 2 meter dari gubuk sedehana yang ditempatinya bersama cucunya. “Angin itu datang dua kali. Saat pertama bergulung-gulung dan langsung merobohkan bangunan. Kemudian hilang. Lalu datang lagi dengan kondisi yang sama. Untungnya tidak menyamber rumah lama ini,” katanya.

Rumah itu dibangun beberapa tahun terakhir dan hanya kurang dipasang papak dan gedek sebagai dinding. Belum sempat dipasang dan dihuni, rumah itu sudah ambruk. Petugas PMI Sragen memperkirakan kerugian bangunan yang ambruk diterjang puting beliung itu senilai Rp20 juta.

Murtadlo, 54, anak mantu Sumiyem, turut melihat gerakan angin yang menerjang rumah ibu mertuanya. Dia menjelaskan angin datang dari timur laut. “Saya bersyukur angin itu tidak menerjang rumah Mbah Sumiyem. Kalau rumah itu ambruk, pasti rumah saya juga ikut ambruk karena jaringan listriknya berasal dari rumah saya,” katanya.

Namun, Sumiyem akhirnya bisa tersenyum karena menerima santunan dari dua orang petugas PMI Sragen, Sabtu. Bantuan itu berupa family kit (perlengkapan keluarga), paket kesehatan keluarga (sabun, dan sejenisnya), dan uang jatah hidup senilai Rp500.000. Bantuan itu diserahkan di depan rumahnya yang masuk kategori rumah tidak layak huni (RTLH) disaksikan anaknya dan cucunya. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, Sugeng Priyono, memperkirakan total kerugian akibat puting beliung itu mencapai Rp60 juta. Dia menjelaskan puting beliung juga mengakibatkan beberapa pohon dan tiang listrik di Dukuh Clupak ambruk.

Dia mengatakan angin puting beliung juga terjadi di Dukuh Sidomulyo RT 016, Desa Ngandul, Sumberlawang yang mengakibatkan tiang listrik ambruk. “Di Dukuh Duwet, Ngandul, sejumlah pohon turus jalan juga tumbang,” tambahnya.