SMPN 2 Juwiring Klaten Dibobol Maling, 33 CPU dan 24 Monitor LCD Raib

Seorang guru menunjukkan ruang laboratorium komputer SMPN 2 Juwiring, Klaten, yang disatroni maling, Kamis (20/12 - 2018) pagi. (Solopos/Ponco Suseno)
20 Desember 2018 15:15 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Laboratorium komputer dan ruang guru SMPN 2 Juwiring, Klaten, dibobol maling, Kamis (20/12/2018) dini hari. Sebanyak 33 central processing unit (CPU) dan 24 monitor liquid crystal display (LCD) raib digondol maling.

Kerugian akibat kejadian itu mencapai Rp101,4 juta. Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, aksi pencurian di SMPN 2 Juwiring itu baru diketahui istri penjaga sekolah, Ny. Suparmin, Kamis pukul 05.40 WIB.

Saat itu, Ny. Suparmin menyapu teras ruang laboratorium komputer. Ny. Suparmin dikagetkan dengan kondisi dua palang besi lengkap dengan dua gembok di depan pintu utama dalam kondisi terbuka. Dua gembok di palang besi itu rusak.

Di sisi lain, kondisi pintu laboratorium komputer dalam kondisi terbuka. Saat ditengok sekilas ke dalam, kondisi di dalam ruangan sudah acak-acakan. Selanjutnya, Ny. Suparmin melaporkan apa yang dilihatnya di laboratorium komputer kepada suaminya, Suparmin.

Suparmin kemudian melaporkan aksi pembobolan laboratorium komputer itu ke Kepala SMPN 2 Juwiring, Qohdari yang langsung memerintahkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 2 Juwiring, Haryanto, untuk melapor ke Polsek Juwiring.

Qohdari juga berpesan ke penjaga dan wakil kepala bidang kesiswaan SMPN 2 Juwiring tidak masuk sekaligus tidak mengubah berbagai barang yang acak-acakan di laboratorium komputer. Hal itu guna memudahkan polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Total 33 CPU dan 24 monitor LCD hilang. Satu unit CPU dan satu unit monitor LCD berada di ruang guru di sebelah timur ruang laboratorium komputer. Dua server milik kami di ruang laboratoirum juga hilang. Sepertinya para pencuri masuk ke ruang laboratorium dan ruang guru dengan merusak gembok di pintu utama,” kata Qohdari, saat ditemui wartawan di sekolahnya, Kamis pagi.

Qohdari mengatakan puluhan komputer di ruang laboratorium itu merupakan aset sekolah yang baru saja dibeli dua tahun silam. Berkat keberadaan laboratorium komputer itu, SMPN 2 Juwiring dapat menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK) sejak dua tahun terakhir.

“Di sekolah kami ada dua laboratorium. Laboratorium yang dibobol maling ini berada di bagian tengah dan menampung 32 CPU dan 23 monitor LCD [selain di laboratorium komputer. Para pencuri juga mengambil satu CPU dan satu monitor LCD di ruang guru. Jadi semua CPU dan LCD di laboratorium komputer di bekas laboratorium bahasa itu hilang. Ada satu laboratorium lagi di belakang laboratorium yang dibobol baling. Namun laboratorium yang satunya itu tidak ada yang dicuri. Di situ ada 13 unit komputer,” katanya.

Selain melapor ke polisi, Qohdari juga melaporkan aksi pencurian itu ke Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten. Selama ini, SMPN 2 Juwiring mengandalkan pengawasan secara konvensioal, yakni memaksimalkan peran penjaga. Guna mengantisipasi aksi serupa di waktu mendatang, SMPN 2 Juwiring bakal memasang kamera closed circuit television (CCTV).

“Sebelum para pencuri itu beraksi [di atas pukul 01.00 WIB], sebenarnya Pak Suparmin selaku penjaga sekolah sudah menyambangi berbagai ruangan di sekolah termasuk ruang laboratorium. Saat disambangi Pak Suparmin, kondisi aman terkendali. Setelah itu Pak Suparmin tidur di ruang penjaga sekolah di bagian pojok sisi timur. Selanjutnya terjadi aksi pencurian itu,” katanya.

Pengelola ruang laboratorium komputer SMPN 2 Juwiring, Irzam Suudi, mengatakan aksi para pencuri yang menggondol puluhan CPU dan monitor LCD dilakukan secara rapi. Para pencuri sempat mencabuti kabel CPU dan monitor LCD.

“Saat kami ikut mengecek lokasi bersama polisi tadi, sebagian besar kabel dicabuti meski ada beberapa kabel yang digunting. Yang jelas, para pencuri ini sudah paham tentang cara melepas CPU dan monitor LCD. Di dalam itu sebenarnya ada juga monitor tabung. Tapi monitor tabung itu tidak dibawa pencuri. Mungkin pencurinya tahu nilai jual monitor tabung rendah di pasaran,” katanya.

Kanitreskrim Polsek Juwiring, Aiptu Nyoto, mewakili Kapolsek Juwiring, AKP Waleri, mengaku sudah mengolah TKP bersama-sama dengan tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polres Klaten. Selain mengumpulkan barang bukti, polisi juga sudah memintai keterangan para saksi di lokasi kejadian.

“Sekilas, aksi pencuri ini memang sudah profesional. Para pencuri masuk ke lingkungan sekolah dengan memanjat tembok pagar di bagian barat. Selanjutnya, merusak dua gembok dan dua palang besi di pintu ruang laboratorium," kata Aiptu Nyoto, yang juga mewakili Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi.

Dilihat dari jejaknya, lanjut Aiptu Nyoto, pelaku pencurian itu lebih dari dua orang. Polisi akan menyelidiki kasus tersebut dan berharap pelakunya segera tertangkap. "Hingga sekarang, baru kali ini kami memperoleh laporan tentang aksi pencurian di lingkungan sekolah [di Juwiring],” kata dia.