Mau Cas-Cis-Cus Berbahasa Inggris Gratis? De Vols Bisa Jadi Pilihan

Astrid Widayani (Istimewa)
06 Januari 2019 23:40 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Program bertajuk De Vols ini merupakan batch kedua setelah sebelumnya digelar tahun lalu. Direktur Direct English Solo, Astrid Widayani, mengatakan De Vols menyasar sukarelawan yang utamanya bergerak di bidang pariwisata dan event. Ini bertujuan menjadikan anak muda sebagai garda terdepan dalam mempromosikan potensi Kota Bengawan. Pada batch kedua tersebut, Direct English memilih 15 sukarelawan untuk mengikuti pelatihan selama tiga bulan dengan durasi pertemuan satu pekan sekali setiap akhir pekan.

“Setiap pertemuan kami memberikan materi selama satu jam. Tapi bisa lebih daripada itu karena para sukarelawan langsung diajak praktik. Pertemuan menggunakan bahasa Inggris penuh, jadi enggak sekadar teori. Jamaknya, pelatihan sekadar pelatihan tanpa mendorong siswanya untuk praktik. Kami enggak pengin seperti itu karena tujuan pelatihan ini agar mereka bisa ngomong [berbahasa Inggris],” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (6/1/2019). 

Inisiator Youth Reinforcement Program (YRP) Solo itu mengatakan perekrutan melalui tahapan wawancara dan penyampaian visi misi. Selain itu, mereka diminta berkomitmen untuk tidak absen dalam pelatihan selama tiga bulan. Materi yang disampaikan meliputi bahasa Inggris praktikal, manajemen event, pengetahuan soal pariwisata dan budaya Solo, serta pengetahuan budaya secara umum (cross culture understanding/CCU). CCU tersebut bertujuan agar para sukarelawan dapat beradaptasi saat berkomunikasi dengan turis maupun tamu dari berbagai negara yang bertandang ke Solo. 

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Surakarta itu menyampaikan program De Vols merupakan salah satu wujud apresiasi anak muda Solo khususnya yang aktif sukarela tanpa dibayar untuk memajukan kotanya. Upaya ini sebagai bentuk dukungan. “Kami punya modul english, kelas agar mereka bisa meng-upgrade kemampuan dan ilmu. Kenapa dibatasi 15 orang? Karena kami ingin pelatihan ini efektif. Enggak sekadar berbahasa inggris secara teori tapi juga praktik. Semakin sedikit orang akan lebih efektif,” ucap Astrid.

Setelah mengikuti pelatihan, mereka diharapkan tak hanya mampu berorganisasi, juga mau menjelaskan potensi Solo dalam bahasa Inggris. Mereka bisa menjadi penerjemah  dan guide andal, selain berperan menjadi local organizer yang mumpuni. “Saya berharap program ini bisa menjadi wadah bagi komunitas untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris,” kata Astrid.