SOLOPOS.COM - Triyono, 41, pedagang siomay asal Dukuh Bahak RT 030, Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Sragen, menyiapkan dagangan di rumahnya, Selasa (24/1/2023). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Dukuh Bahak di Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, dikenal sebagai wilayah penghasil siomay khas Kabupaten Sragen. Maka tak heran bila dukuh itu punya sebutan Kampung Siomay.

Ada delapan orang yang kini masih memproduksi siomay khas Sragen itu. Mereka satu keluarga dan mewarisi pembuatan siomay dari almarhum Siswanto pada 1988 silam. Enam orang di antaranya tinggal di lingkungan RT 030 dan dua lainnya tinggal di lingkungan RT 031.

Promosi Selamat! Direktur Utama Pegadaian Raih Penghargaan Best 50 CEO 2024

Salah satu dari delapan pedagang siomay itu adalah Suharno. Pria 53 tahun itu memulai usaha jualan siomay sejak 1992 di Jakarta. Saat itu banyak warga Bahak yang merantau ke Jakarta untuk berjualan siomay.

“Kala itu Mbah Siswanto yang jadi bosnya. Anak buahnya ada 20 orang dari Bahak ini semua,” ujar Suharno saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (24/1/2023).

Saat demo dan keributan pada 1998 pecah, Suharno dan teman-temannya memilih pulang. Mereka kemudian merantau ke Malang, Jawa Timur (Jatim). Lima tahun di Malang, mereka bergeser ke Blitar selama tiga tahun sebelum akhirnya kembali ke Bahak. Di kampung halaman mereka tetap berjualan siomay keliling di seputaran Sragen sampai sekarang.

“Saat di Malang itu yang menjadi bosnya kakak saya. Suparno namanya. Anak buahnya ya adik-adiknya semua,” kata Suharno. Suparno pun kini berjualan Siomay di Srage. Ia biasa berkeliling ke sekolah-sekolah dan GOR di Nglorog.

Siomay Kedawung sragen
Siomay khas Sragen dan aneka sayuran dijual dalam sebuah panci di bronjong saat dijual keliling menggunakan motor, Selasa (24/1/2023). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Mereka belajar membuat siomay dari Siswanto. Dari berjualan siomay itu pula dapur mereka tetap ngebul. Kini masih masih tersisa  dua warga Bahak yang merantau di Jakarta berjualan siomay.

Siomay yang dijual Suharno dan warga Bahak berbeda dengan siomay Bandung. Siomay khas Sragen itu memiliki ciri khas adanya campuran buah jipan. Buah ini mereka datangkan dari Kemuning, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Triyono, 41, adalah warga Bahak Termuda yang berjualan Siomay. Pekerjaan itu sudah ia gelut sejak lulus STM yang  kini bernama SMKN 1 Kedawung, pada tahun 2000. Menurutnya membuat siomay itu mudah dan harus pakai tangan.

“Perbandingannya 10 kg jipan ditambah 3 kg tepung kanji, dan ½ ikan tengiri atau tuna kemudian dicampur dengan bumbu. Pembuatan sambal kacangnya pun dilakukan secara manual,” jelasnya.

Dalam sehari Triyono bisa menghabiskan 5 kg adonan Siomay. Pada Minggu biasanya ia membuat sampai 7 kg siomay dan mangkal di arena car free day (CFD) Sragen. Selain di CFD, Triyono juga keliling ke pabrik di Bener, Ngrampal, dan sekolah-sekolah.

“Sehari rata-rata bisa dapat Rp500.000 kotor. Kalau Minggu kadang bisa dapat Rp600.000 kotor karena ada CFD. Semua produk siomay itu dibuat segar. Setiap hari 90% dagangan pasti habis,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya