Soloraya
Jumat, 4 Januari 2013 - 12:23 WIB

Awas Flu Burung! Ratusan Itik di Klaten Mati

Redaksi Solopos.com  /  Rini Yustiningsih  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

KLATEN–Sekitar 450 itik berusia 1,5 bulan milik Wiwid Suyanto, 45, dan Andiana Erri, 27, warga Dukuh Brongkol, Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk mati dalam dua pekan terakhir.

Advertisement

Hasil rapid test yang dilakukan Bidang Peternakan, Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten menunjukkan itik-itik yang mati tersebut positif terjangkit Avian Influenza (AI) atau flu burung. Untuk menanggulangi penyebaran virus ini, petugas Dispertan menyemprotkan disinvektan dia kandang itik keduanya, Jumat (4/1/2013).

Saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Wiwid mengatakan itik miliknya dibeli dari daerah Sukoharjo pada awal November lalu. Saat itu Wiwid membeli 500 ekor itik yang pelihara bersama adiknya Andiana. Namun dalam dua pekan terakhir itik-itik itu mulai mati.

“Pada awalnya itik yang mati hanya berjumlah tiga ekor. Sehari berikutnya terdapat 4-5 ekor. Puncaknya saat hujan cukup lebat pekan lalu. Saat itu ada lebih dari 20 ekor yang mati. Sekarang dari 500 ekor itu hanya tersisa sekitar 50 ekor,” kata Wiwid.

Advertisement

Andiana menambahkan awal mula kematian itik itu ditandai dengan munculnya penyakit mata. “Kalau matanya sudah terlihat rabun, bisa dipatikan itik itu akan mati. Itik itu lalu kami kubur,” papar Andiana.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan, Dispertan Klaten, Sri Muryani, mengatakan setelah mendapatkan laporan, pihaknya langsung menerjunkan petugas ke lokasi. Selain menyemprotkan disinvektan, petugas juga meminta kandang itik dipisahkan dari ternak lain.

Pihaknya juga sudah menggelar rapid test pada 26 Desember lalu. Hasil rapid test itu menunjukkan bahwa itik yang mati tersebut positif terjangkit AI.

Advertisement

“Di sekitar kampung ini ada lima peternak unggas. Agar virus ini tidak menyebar ke peternakan lain, kami menyemprotnya dengan disinvektan,” kata Sri.

Sri menambahkan beberapa bulan lalu indikasi kasus AI juga pernah terjadi di Desa Pesu, Kecamatan Wedi. Dari laporan pemilik ternak, kematian itik itu memiliki ciri-ciri persis serangan AI. Akan tetapi pihaknya tidak sempat menggelar rapid test lantaran laporan yang diterimanya datang terlambat. “Kami baru mendapat laporan setelah 10 hari dari kematian itik,” kata Sri. Moh Khodiq Duhri/JIBI/SOLOPOS

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif