SOLOPOS.COM - Satu hunian di antara tanaman terong, tepatnya di pinggiran Dukuh Pilangsari, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen ini dihuni satu keluarga pada Minggu (21/8/2022). (Espos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN —  Suwarno, 60, dan istrinya, Imas, 52, bersikukuh tinggal di rumah tengah sawah meski Pemerintah Desa (Pemdes) Tegalrejo, Kecamatan Gondang, Sragen sudah membujuk mereka untuk tinggal di rumah yang lebih layak.

Mereka dibujuk untuk tinggal di rumah yang lebih representatif di Dukuh Pilangsari, Desa Tegalrejo, namun menolak. Alasannya mereka sudah merasa nyaman tinggi di rumah di tengah sawah.

Promosi Selamat! Direktur Utama Pegadaian Raih Penghargaan Best 50 CEO 2024

Pemdes Tegalrejo mengupayakan untuk mengurus administrasi kependudukan (adminduk) mereka karena statusnya masih warga Bogor.

Sebelumnya, Suwarno dan Imas bersama anak bungsunya memilih tinggal di tengah areal persawahan setelah pulang dari perantauan. Mereka memilih hidup dengan mengandalkan hasil pertanian di lahan seluas 2.500 meter persegi karena merasa lebih nyaman.

Baca Juga: Tinggal di Tengah Sawah, Keluarga di Sragen Ini Hidup dari Bertani

Kepala Desa Tegalrejo, Joko Prasetyo, saat dihubungi Solopos.com, Senin (22/8/2022), mengaku pernah mengumpulkan tokoh masyarakat setempat untuk menyikapi tentang kondisi keluarga Suwarno. Joko mengatakan saudara-saudara Suwarno di Tegalrejo ini merupakan keluarga yang mampu semua secara ekonomi.

“Beliau {Suwarno] diminta menempati rumah saudaranya tidak mau, tetapi memilih menempati rumah itu [di tengah sawah]. Kami mencoba membahas lagi dengan para ketua RT setempat dan hasilnya juga sama. Sebenarnya pihak keluarga malu, tetapi beliaunya sendiri yang memilih tinggal di rumah itu,” jelasnya.

Joko sampai mengutus bayan setempat untuk berdialog dengan Suwarno agar mau tinggal di dukuh. Dia menjelaskan sebenarnya di dukuh itu banyak rumah kosong yang bisa ditempati sementara. Bila ada kekurangan seperti peralatan rumah tangga, kata dia, Pemdes yang mengusahakannya. Tetapi Suwarno masih tetap menolak.

Baca Juga: Keluarga Sragen Tinggal di Gubuk Tengah Sawah, Hidup di Perantauan Berat

“Pihak Dinas Sosial pun pernah ke situ dan hasilnya sama. Ya sudah kalau tidak mau menempati rumah dan memilih tinggal di tengah sawah,” ungkap Joko.

Sebenarnya Suwarno bisa diupayakan untuk bisa mendapatkan BSPS [Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya], tetapi harus pindah kependudukan dulu. Kepada Joko, Suwarno mengaku mau merantau lagi.

Namun kepada perwakilan Dinsos, ia mengatakan tidak jadi merantau. “Kami akan undang mereka ke desa dan kami akan memfasilitasi keinginannya,” jelas Joko.

Tak Bisa Terima Bansos

Jika keluarga Suwarno tetap ingin tinggal di tengah sawah, Joko mengatakan Pemdes akan membuat berita acara agar ke depan mereka tidak disalahkan. Joko pun mengupayakan agar status kependudukanya bisa pindah ke Sragen karena berdasarkan kartu tanda penduduk (KTP) tercatat sebagai penduduk Bogor.

“Sebelum viral, tiga bulan lalu saya sudah menyampaikan ke Pak Camat soal pilihan warga tersebut. Bahkan pihak saudara-saudaranya mau membuatkan rumah, tetapi beliaunya tidak mau,” jelasnya.

Baca Juga: Pulang Merantau, Satu Keluarga di Sragen Malah Tinggal di Tengah Sawah

Camat Gondang, Sragen, Riyadi Guntur Rilo Subroto, menyampaikan hal senada. Dia mengatakan tiga bulan lalu sudah dimotivasi untuk pindah ke rumah di dukuh tetapi yang bersangkutan tidak mau. Guntur sudah melaporkan kondisi tersebut ke Dinsos Sragen.

Kepala Dinsos Sragen, Finuril Hidayati, mendapatkan laporan dari Camat Gondang bahwa yang bersangkutan memiliki warisan tanah dan rumah.

Karena status KTP-nya masih warga Bogor maka belum bisa diusulkan bantuan dari Pemkab Sragen. Tetapi sudah ada bantan dari warga sekitar dan desa secara berkala.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya