Soloraya
Jumat, 1 Juli 2022 - 17:49 WIB

Harga Jual Porang di Wonogiri Anjlok, Ini Alasannya

Muhammad Diky Praditia  /  Ponco Suseno  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Petani porang Desa Ngambarsari, Kecamatan Karangtengah, Wonogiri, Supriyanto, saat memanen porang hasil budidayanya di desa setempat. (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI — Harga jual porang di Kabupaten Wonogiri anjlok hingga Rp2.300/kg dari harga normal senilai Rp6.000-Rp7.000/kg. Penurunan tersebut terjadi karena ekspor porang terhenti selama satu tahun akhir.

Petani porang asal Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Teguh Subroto, mengatakan harga jual porang pernah menembus Rp9.000/kg di awal tahun 2021. Memasuki Agustus 2021, harga jual porang masih menyentuh harga Rp7.000/kg.

Advertisement

Setelah itu, harga porang terus merosot sampai saat ini. Sejumlah pabrik pengolah hasil tanaman porang berhenti beroperasi.

“Ada regulasi dari pemerintah agar petani melakukan registrasi lahan sebagai syarat ekspor. Misalnya, harus melaporkan berapa luas lahan, berapa jumlah panen dengan luas lahan tersebut. Lalu bagaimana proses penanamannya, bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam proses penanaman porang, dan sebagainya,” kata Teguh saat dihubungi Solopos.com, Jumat (1/7/2022).

Advertisement

“Ada regulasi dari pemerintah agar petani melakukan registrasi lahan sebagai syarat ekspor. Misalnya, harus melaporkan berapa luas lahan, berapa jumlah panen dengan luas lahan tersebut. Lalu bagaimana proses penanamannya, bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam proses penanaman porang, dan sebagainya,” kata Teguh saat dihubungi Solopos.com, Jumat (1/7/2022).

Faktor cuaca dinilai juga memengaruhi harga jual porang. Cuaca yang sering hujan menyebabkan kadar air dalam porang semakin banyak. Kandungan yang terdapat dalam porang tidak maksimal. Porang pun bercampur dengan air. Hal itu menyebabkan harga jugal menjadi turun.

Baca Juga: Petani Porang Wonogiri Mulai Panen, Satu Tumbuhan Bisa Untung Puluhan Ribu

Advertisement

Tanaman porang bisa ditumpang sari selama porang masih di dalam tanah. Selain itu, Teguh dan petani lain memilih menunda panen porang sampai harga porang kembali normal.

Meski sedang anjlok, Teguh meyakini harga porang akan kembali naik. Hal itu mengingat permintaan porang cukup tinggi di luar negeri.

Kegunaan porang pun cukup banyak, meliputi semua hajat hidup orang banyak. Porang bisa diolah menjadi produk apa saja mulai dari makanan, produk farmasi, bahkan diaper.

Advertisement

Baca Juga: Mantul! Tepung Porang Wonogiri Pernah Tembus Pasar Ekspor

“Saya berharap pemerintah turut turun tangan menyelesaikan masalah ini. Sebab porang ini kan salah satu produk unggulan dari Indonesia yang bisa diekspor ke berbagai negara. Porang ini juga programnya Pak Presiden kala itu. Sebaiknya pemerintah jangan lepas tangan,” jelas Teguh yang memiliki lahan porang seluas tujuh hektare.

Petani porang asal Desa Ngambarsari, Kecamatan Karangtengah, Supriyanto, menyampaikan hal serupa. Pabrik-pabrik pengolah dan pengekspor hasil tanaman porang tidak berjalan selama setahun terakhir.

Advertisement

Negara-negara pengimpor porang seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea meminta jaminan kualitas porang yang mereka terima. Mereka menghendaki ada standarisasi porang.

“Para petani porang dituntut memiliki sertifikat good agriculture practice (GAC). Petani harus punya buku harian. Pupuk yang digunakan apa, kompos yang digunakan seberapa, pembibitannya bagaimana, dan lain-lain,” kata Supriyanto.

Baca Juga: Jadi Sentra Belajar Porang di Wonogiri, Jatisari Edupark Resmi Dibuka

Menurut dia, pemerintah sudah gencar menyosialisasikan hal tersebut. Para petani didorong untuk registrasi lahan porang masing-masing.

Tahap awal, petani harus mendaftarkan terlebih dahulu usaha pertanian melalui online single submission (OSS) untuk mendapatkan nomor induk berusaha (NIB). Kemudian, meminta verifikasi dan validasi dari Dinas Pertanian dan Pangan Wonogiri untuk mendapatkan berkas GAC.

“Setelah itu baru bisa mengirimkan ke pabrik-pabrik pengolah porang. Seminggu terakhir, sembilan pabrik pengolah porang di Jawa Tengah sudah mulai beroperasi. Saya prediksi Agustus 2022 harga sudah mulai normal. Minimal satu Rp5.000/kg,” jelas dia.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif