Soloraya
Minggu, 2 Oktober 2022 - 15:35 WIB

Hari Kesaktian Pancasila, Ratusan Anak Suguhkan Tarian Nusantara di Klaten

Taufiq Sidik Prakoso  /  Ponco Suseno  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Penampilan penari saat digelar srawung budaya di Sanggar Sayuk Rukun Dukuh Girimulyo, Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom, Sabtu (1/1/0/2022). (Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Sebanyak 200-an anak tampil menari saat digelar srawung budaya di Sanggar Sayuk Rukun, Dukuh Girimulyo, Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom, Sabtu (1/10/2022). Kegiatan digelar dalam rangka memeringati Hari Kesaktian Pancasila.

Ratusan anak itu berasal dari 19 sanggar tari. Sejak Sabtu siang hingga malam, mereka secara bergiliran menyajikan tarian.

Advertisement

Sebagai puncaknya, para penari tampil bareng di panggung pertunjukan di tengah perkampungan yang dipenuhi pepohonan. Tak hanya tarian Jawa, mereka menyajikan tarian serta pakaian adat dari berbagai suku di nusantara seperti Sunda, Asmat, hingga Dayak.

Ketua Forum Silaturahmi Sanggar Tari (FSST) Klaten, Marta Endang Wartuti, mengatakan kegiatan itu sekaligus menjadi media edukasi kepada anak-anak guna menumbuhkan nilai-nilai Pancasila. Kegiatan itu sekaligus mengenalkan berbagai budaya yang ada di Indonesia.

“Harapannya agar tumbuh nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan lainnya yang terkandung dalam Pancasila. Kami berharap dengan proses ini semakin membentuk jati diri, karakter anak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila,” kata Marta saat ditemui Solopos.com di sela kegiatan, Sabtu malam.

Advertisement

Baca Juga: World Tourism Day, Disbudporapar Klaten Tanam 2.000 Pohon di Lereng Merapi

Ketua Panitia Srawung Budaya, Sri Sadono, mengatakan srawung budaya sebagai rangkaian dari program FSST Klaten berupa Program Saba Sanggar. Tari dijadikan sebagai media implementasi nilai-nilai Pancasila lantaran di dalam setiap gerakannya memiliki nilai yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Seperti gerakan lembah manah dan sebagainya itu dalam setiap gerakan tari ada maknanya dan bisa diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap dia.

Advertisement

Sadono mengatakan srawung budaya baru kali pertama digelar. Rencananya, kegiatan tersebut digelar secara rutin setiap tahun. Apalagi, anak-anak di Klaten membutuhkan banyak panggung ekspresi.

Baca Juga: Sempat Terpukul Pandemi Covid-19, Begini Kondisi Pariwisata di Klaten Sekarang

“Satu hal kenapa kami mengambil momentum kegiatan ini saat peringatan Hari Kesaktian Pancasila untuk mengedukasi ke anak-anak, apa itu Pancasila. Ternyata, mereka sudah memahami. Mereka saling menghormati, saling menjaga, dan saling bergotong royong tanpa pernah membicarakan agama, suku, dan ras. Ini bentuk dari implementasi Pancasila,” urai dia.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif