Soloraya
Jumat, 27 September 2019 - 22:15 WIB

Kebakaran Hutan dan Lahan Terjadi 12 Kali Dalam Sepekan Di Boyolali

Redaksi Solopos.com  /  Suharsih  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi kebakaran (JIBI/Solopos/Antara/Untung Setiawan)

Solopos.com, BOYOLALI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus terjadi di Kabupaten Boyolali. Dalam sepekan terakhir terjadi 12 kali kebakaran lahan.

Terbaru, api membakar lahan bambu di Makam Wonodadi RT 018/ RW 011 Dlingo, Mojosongo, Boyolali, Kamis (26/9/2019) sore.

Advertisement

Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Boyolali, Dono Rumekso, mengatakan dalam sepekan terakhir petugas pemadam kebakaran mendapatkan laporan kebakaran lahan hingga 12 kali.

Kebakaran terjadi di hutan rakyat Desa Tegalrejo, Desa Kebonbimo, Jalan Raya Boyolali-Solo KM 2, Desa Karangmojo, Desa Gatak, Desa Gemulan. Selain itu juga di bumi perkemahan Wonoputro, Desa Karangkepoh, kemudian Desa Bendoreso, Kiringan, Desa Karangduren, dan Makam Wonodadi di Desa Dlingo.

Advertisement

Kebakaran terjadi di hutan rakyat Desa Tegalrejo, Desa Kebonbimo, Jalan Raya Boyolali-Solo KM 2, Desa Karangmojo, Desa Gatak, Desa Gemulan. Selain itu juga di bumi perkemahan Wonoputro, Desa Karangkepoh, kemudian Desa Bendoreso, Kiringan, Desa Karangduren, dan Makam Wonodadi di Desa Dlingo.

”Kebakaran lahan ini terjadi karena warga membakar sampah,” kata dia saat ditemui Solopos.com di Kantor Satpol PP, Jumat (27/9).

Dono mengaku kesulitan menertibkan warga yang membakar sampah di Kabupaten Boyolali. Padahal aktivitas itu membahayakan karena bisa memicu kebakaran dan mengganggu kesehatan.

Advertisement

Ia menduga kembali maraknya pembakaran sampah terjadi karena pola pikir masyarakat belum berubah. “Mereka [masyarakat] masih menganggap aktivitas bakar sampah lazim dilakukan untuk membersihkan lingkungan,” katanya.

Padahal partikel kecil hasil pembakaran justru mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Selain zat-zat kimia pada asap pembakaran, abu sisa pembakaran juga mengandung beberapa senyawa berbahaya seperti mercury, chromium, dan arsenic.

Senyawa tersebut dapat menjadi racun saat masuk dalam tubuh manusia dan menyebabkan tekanan darah tinggi, masalah kardiovaskular, kerusakan ginjal, hingga kerusakan otak.

Advertisement

Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali agar aktivitas masyarakat membakar sampah tidak dilakukan. Salah satunya berkoordinasi dengan perangkat pemerintah kelurahan.

“Mereka kami minta menyosialisasikan larangan membakar sampah ini kepada warga saat kerja bakti. Harapannya aktivitas pembakaran sampah ini bisa berkurang,” kata Dono.

 

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif