Soloraya
Senin, 5 Maret 2012 - 11:35 WIB

KEKERASAN PEREMPUAN: 2012, APPS Sragen Tangani 9 Kasus

Redaksi Solopos.com  /  R. Bambang Aris Sasangka  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/dok)

Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/dok)

SRAGEN — Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen menangani sembilan kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2012, tiga kasus di antaranya merupakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dua kasus pencabulan dan sisanya kasus pemerkosaan.
Advertisement

Salah satu korban tersebut adalah gadis yang duduk di bangku Kelas VI SD asal Gondang berinisial RK, 12. Dia menjadi korban nafsu liar laki-laki yang juga tetangganya, E, 21. Ketua APPS Sragen, Sugiyarsi, saat dijumpai Espos, mengungkapkan kasus pencabulan tersebut terjadi sekitar Oktober 2011. Menurut dia, bocah bau kencur itu kini dalam kondisi hamil empat bulan. Kehamilannya, lanjut dia, diketahui orangtuanya ketika kondiri perut anak itu mulai membesar.

“Orangtua korban curiga kondisi perut anaknya mulai membesar. Setelah diperiksakan ke bidan, ternyata anak itu hamil empat bulan. Saya memberi pengarahan kepada orangtua dan anaknya agar tetap sabar dan berupaya mendampingi secara psikologi. Selain itu saya juga berkomunikasi dengan kepala desa setempat dan pihak sekolah agar anak itu tetap bisa sekolah sampai lulus hingga nantinya bisa melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi,” tandas Sugiyarsi.

Dia berharap bayi yang dikandung anak itu bisa selamat dan nantinya langsung diadopsi orangtua korban menjadi satu dalam daftar kepala keluaraga (KK). Dia sudah meminta kepada aparat perangkat desa setempat agar mengupayakan itu demi masa depan korban yang belum dewasa. “Saat ini kasus itu tengah ditangani Polres Sragen. Tersangka pencabulan itu sudah dijebloskan ke penjara. BAP (berita acara pemeriksaan–red) sudah hampir selesai,” tambahnya.

Advertisement

Setidaknya ada tiga kasus pencabulan lainnya, ujar dia, yang kini ditangani APPS. Selain itu, dari empat kasus KDRT, Sugiarsi, juga mendampingi seorang korban KDRT yang ditinggal suaminya dalam kondisi hamil tiga bulan. “Korban KDRT itu terus kami dampingi dan tinggal di rumah saya untuk sementara,” pungkasnya.

JIBI/SOLOPOS/Tri Rahayu

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif