Soloraya
Minggu, 29 Agustus 2021 - 17:45 WIB

Kelamaan PJJ Rawan Picu Learning Loss dan Degradasi Moral Anak, Anggota DPR Ini Minta PTM Segera Dimulai

Kurniawan  /  Suharsih  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti, saat diwawancarai wartawan di DPC PDIP Solo, Sabtu (28/8/2021). (Solopos/Kurniawan)

Solopos.com, SRAGEN — Pembelajaran jarak jauh atau PJJ yang sudah berlangsung kuran lebih 1,5 tahun akibat kondisi pandemi Covid-19 rawan memicu terjadinya learning loss dan degradasi moral di kalangan pelajar.

Learning loss adalah situasi di mana siswa kehilangan pengetahuan dan keterampilan baik umum atau khusus, maupun kemunduran secara akademis karena kesenjangan berkepanjangan atau ketidakberlangsungan proses pendidikan.

Advertisement

Untuk menghentikan situasi tersebut, pemerintah harus mengambil risiko segera memulai pembelajaran tatap muka (PTM). Pendapat itu disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti, di Kantor DPC PDIP Sragen, Sabtu (28/8/2021).

Baca Juga: KKN UNS di Miri Sragen, Kelompok 342 Bikin Alat Hand Sanitizer Pijak sampai Peduli Literasi

Advertisement

Baca Juga: KKN UNS di Miri Sragen, Kelompok 342 Bikin Alat Hand Sanitizer Pijak sampai Peduli Literasi

“Secepatnya harus dicoba [PTM], trial dengan segala keterbatasannya dan penerapan ketat prokes. Kalau tidak dicoba akan ameng-ameng,” ujarnya seusai memberikan bantuan jaminan masa depan anak korban Covid-19 di DPC PDIP Sragen.

Agustina meyakini saat ini sudah terjadi learning loss yang tentu mengancam masa depan generasi penerus bangsa. Selama setahun enam bulan anak-anak kehilangan waktu belajar dan bermain di sekolah karena harus tinggal di rumah saja.

Advertisement

Baca Juga: Memotret Kawasan Nglangon, Calon Pusat Bisnis Terpadu di Sragen

Potensi Bahaya Mengincar Anak-Anak

Menurut legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV Jawa Tengah (Jateng) itu berbagai potensi bahaya mengincar anak-anak yang tanpa pengawasan di rumah. Mulai dari konten pornografi, radikalisme (terorisme), hingga narkoba.

“Kemudian keteladanan apa yang mereka peroleh dari HP? Pengaruh berbagai macam budaya asing tanpa saringan. Mereka mencoba berbagai makanan minuman tanpa saringan, itu berbahaya buat anak-anak, tanpa pendampingan,” urainya.

Advertisement

Ancaman lain berupa tindak kekerasan dalam rumah tangga [KDRT] yang dipicu memuncaknya tingkat stres orang tua dikarenakan kondisi pandemi Covid-19. Para orang tua tetap harus bekerja dan menjalankan tugas pendidikan anak.

Baca Juga: Pemkab Sragen Gelontorkan Rp2,1 Miliar untuk Pengadaan Sembako Bagi Warga Miskin

“Anak-anak tumbuh seolah-olah normal, tapi psikologisnya enggak. Yang sudah diputuskan Mendikbud harus didukung. Kalau takut kasus Covid-19 melonjak karena PTM dicoba, ya jangan cuma pendidikan yang digitukan,” ujarnya.

Advertisement

Agustina lantas membandingkan perbedaan perlakuan antara sektor pendidikan dengan pusat keramaian seperti pasar, toko, dan pabrik. “Ayolah kita berdamai dengan Covid-19, kita harus hidup bersama dengan Covid-19 ini,” ujarnya.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif