SOLOPOS.COM - Ilustrasi bonsai. (Freepik)

Solopos.com, KLATEN–Pelaku budi daya bonsai di Klaten menunjukkan tren peningkatan. Saat ini, hampir di setiap wilayah di Klaten ada pembudidaya bonsai.

Salah satu penghobi bonsai, Suyata, mengatakan sejak 1987 Klaten sudah dikenal secara nasional sebagai kota budi daya bonsai.

Promosi Beli Emas Bonus Mobil, Pegadaian Serahkan Reward Mobil Brio untuk Nasabah Loyal

“Sempat satu atau dua tahun sempat marak pendongkel bonsai. Tetapi kemudian banyak yang beralih ke budi daya bonsai dari biji sehingga tidak sampai merusak alam,” kata Suyata yang tergabung dalam Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Klaten saat ditemui di Desa Tirtomarto, Kecamatan Cawas, Selasa (30/8/2022).

Suyata menjelaskan perkembangan pembudi daya bonsai di Klaten terus menunjukkan tren peningkatan. Hampir di setiap wilayah di Klaten saat ini ada pembudi daya bonsai.

Nilai ekonomi yang tinggi menjadi salah satu daya tarik semakin banyak orang membudidayakan bonsai. Suyata mengatakan tak ada standar harga untuk pohon bonsai.

“Harga itu tergantung hobi. Jadi tidak ada batas,” ungkap pria yang sejak 1995 mulai menggeluti budi daya bonsai.

Harga satu bonsai bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Suyata menceritakan pengalamannya membudidayakan bonsai.

Dia pernah membeli bibit bonsai seharga Rp1,25 juta. Setelah dirawat selama 3,5 tahun, bonsai dari jenis pohon anting putri berhasil terjual Rp65 juta.

“Kemudian ada bonsai amplas awalnya saya beli Rp750.000 dari orang Sragen. Setelah diproses 3,5 tahun, laku Rp35 juta. Jadi tinggal teknis bagaimana memproses satu pohon itu,” ujar dia.

Suyata mengatakan harga satu bibit bonsai dari cangkok di pasaran berkisar Rp20.000-Rp50.000. Ketika dirawat dengan benar selama 1,5 tahun, harga bonsai bisa mencapai Rp700.000-Rp800.000.

“Kunci budi daya bonsai itu didasari dari senang dulu. Kemudian niat dan semangat,” jelas dia.

Salah satu pelaku budi daya bonsai, Bejo Riyadi, 55, mengaku sudah sejak 1990-an menjadi petani bonsai. Saat itu, pria yang akrab disapa Pak Be itu kesulitan untuk mencari teman berbagi pengalaman membudidayakan bonsai.

“Saat ini perkembangannya luar biasa. Hampir di setiap kampung ada. Dulu di kampung, hanya saya sendiri yang main di bonsai. Saat ini, satu kampung ada 25 orang,” kata pria asal Desa Karangwungu, Kecamatan Karangdowo tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya