Soloraya
Senin, 13 Maret 2023 - 11:01 WIB

Muncul di Klaten, Ini Penjelasan Awan Lentikular yang Dianggap Tanda Bencana

Nugroho Meidinata  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Fenomena unik mirip awan topi atau lentikular muncul di langit Klaten, Minggu (12/3/2023) sore. (Instagram @infocegatanklaten)

Solopos.com, KLATEN — Baru-baru ini muncul awan lentikular atau awan topi di Klaten, Jawa Tengah, pada Minggu (12/3/2023) sore.

Munculnya awan berbentuk topi tersebut banyak yang mengaitkan dengan tanda akan terjadinya bencana alam. Apalagi awan tersebut muncul setelah Gunung Merapi mengalami erupsi pada Sabtu (11/3/2023) siang.

Advertisement

Foto awan itu diunggah salah satunya di akun Instagram @infocegatanklaten pada Minggu malam. Ada lima foto yang menampakkan awan dengan bentuk menyerupai topi berwarna kuning keemasan tersebut.

“Fenomena awan unik sore mau neng sisi #merapi … ono seng weruh mas mbak ?” tulis pengelola akun @infocegatanklaten.

Advertisement

“Fenomena awan unik sore mau neng sisi #merapi … ono seng weruh mas mbak ?” tulis pengelola akun @infocegatanklaten.

Lalu, apa sih sebenarnya awan lentikular yang muncul di Klaten tersebut?

Pakar Iklim Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, mengatakan awan lentikuris merupakan fenomena biasa yang sering muncul atau terbentuk di daerah pegunungan maupun perbukitan.

Advertisement

“Di lihat dari permukaan, awan terlihat tidak bergerak saat udara mengalir dan lapisan pembentuk awan terlalu kering sehingga lenticular akan terbentuk satu di atas yang lain. Bahkan, terkadang hal ini meluas ke lapisan stratosfer dan terlihat seperti UFO,” ujar dia dalam rilis tertulisnya di laman resmi UGM yang dikutip Solopos.com pada Senin (13/3/2023).

Sama seperti terjadi di Klaten, awan lentikularis ini biasanya menimbulkan hujan dengan intensitas sedang. “Hujan, tetapi intensitas tidak tinggi karena pada dasarnya uap air sudah jatuh sebagai hujan di sisi windward,” terangnya.

Dia menegaskan awan lentikularis ini tidak ada kaitannya dengan tanda-tanda bencana, tetapi berbahaya untuk penerbangan karena bisa mengakibatkan turbulensi.

Advertisement

Fenomena unik ini juga pernah terjadi di lereng Gunung Lawu pada 2020 silam. Awan berbentuk topi di lereng Lawu tersebut juga sempat menuai perhatian publik karena juga dianggap sebagai tanda bahaya.

 

 

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif