Soloraya
Senin, 22 Januari 2024 - 19:44 WIB

Ngumpul di Klaten, Pedagang Kuliner Daging Anjing Soloraya Tumpahkan Unek-unek

Taufiq Sidik Prakoso  /  Suharsih  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Para pedagang kuliner daging anjing Soloraya berkumpul di wilayah Kecamatan Wonosari, Klaten, Senin (22/1/2024). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Para pedagang kuliner olahan daging anjing di Soloraya mengadakan pertemuan di wilayah Wonosari, Klaten, Senin (22/1/2024). Dalam kesempatan itu, mereka menumpahkan berbagai unek-unek serta menyampaikan sejumlah permintaan ke pemerintah.

Salah satunya, mereka meminta pemerintah bisa memfasilitasi audiensi antara pedagang dengan para pencinta hewan yang selama ini menentang dan meminta mereka menutup usaha. Audiensi itu juga untuk mencari solusi nasib para pedagang yang usahanya mandek sejak ada penangkapan pengepul anjing di Semarang, beberapa waktu lalu.

Advertisement

Beberapa unek-unek dan keluh kesah juga mereka ungkapkan lewat tulisan di poster. “Pak Presiden Jokowi..Tolong pikirkan nasib kami pedagang kecil! Kami hanya ditindas oleh oknum yang mencari keuntungan lewat donasi dengan dalih menyelamatkan anjing!,” tulis pedagang di salah satu poster.

Poster lain bertuliskan keinginan para pedagang kuliner olahan daging anjing di Soloraya itu agar segera ada solusi dan keadilan bagi mereka.

Advertisement

Poster lain bertuliskan keinginan para pedagang kuliner olahan daging anjing di Soloraya itu agar segera ada solusi dan keadilan bagi mereka.

Jika makan daging anjing bisa kena penyakit,,kenapa pembeli tidak menuntut kami!!! Kami berjualan tidak memaksa pembeli nutuk membeli dagangan kami. Mereka datang sendiri untuk membeli masakan kami!,” tulis pedagang di poster lainnya.

“Intinya teman-teman minta keadilan. Kami minta solusi, karena dari kalangan pencinta anjing memaksakan kehendak secara sepihak. Intinya pedagang ini disuruh tutup tanpa diberikan solusi,” kata salah satu pedagang asal Sukoharjo, Danny Kristiawan, saat ditemui wartawan di lokasi pertemuan.

Advertisement

Danny mencontohkan kakeknya sudah menjadi pedagang kuliner anjing di Sukoharjo sejak 1970-an kemudian diturunkan ke orang tuanya dan kini dia yang melanjutkan. Selama ini, para pedagang juga tidak memaksa pembeli untuk membeli dagangan mereka.

“Sebelum ada pencinta anjing, sebelum [komunitas] mereka lahir, pedagang kuliner guguk sudah ada. Kemudian mereka mengatakan anjing penyakiten. Kalau memang daging anjing ada penyakit, pedagang pasti sudah dituntut sejak dulu,” ungkap dia.

Usaha Kuliner Berhenti Total

Di Soloraya, diperkirakan ada lebih dari 100 pedagang kuliner daging anjing. Khusus di Sukoharjo, ada 30-an pedagang. Mereka membentuk perkumpulan Pedagang Kuliner Sate Guguk Sukoharjo yang dibuktikan dengan surat keputusan Kemenkumham.

Advertisement

“Kami berharap bisa duduk bersama, berembuk bersama [pencinta] anjing untuk mencari solusi,” kata Danny yang juga Ketua Perkumpulan Pedagang Kuliner Sate Guguk Sukoharjo itu.

Pedagang kuliner daging anjing lainnya, Suseno, 62, mengatakan sejak ada penangkapan pengepul anjing praktis usahanya berhenti. Para pedagang kuliner daging anjing kini kebingungan karena satu-satunya sumber penghasilan keluarga mereka dari usaha kuliner itu berhenti total.

“Kami berharap dari pemerintah, tolong pikirkan rakyat kecil. Kami juga ingin hidup,” kata pedagang kuliner daging anjing yang sudah berjualan di Kartasura, Sukoharjo, sejak 20 tahun lalu itu.

Advertisement

Dia mencontohkan solusi seperti yang dilakukan di Kabupaten Karanganyar. Pemerintah daerah setempat tak sekadar melarang, melainkan mencarikan solusi bagi para pedagang kuliner anjing untuk beralih usaha.

“Di Karanganyar berani menutup, berani mengganti rugi pedagang, diberi modal usaha, dibina sampai benar-benar usahanya bisa berjalan secara mandiri,” kata Suseno.

Perwakilan pedagang kuliner daging anjing dari Sragen, Lasno, juga berharap ada audiensi antara pedagang dengan pencinta anjing untuk mencari solusi bagi para pedagang.

“Harapan kami ada audiensi duduk bersama antara pencinta anjing dan pedagang untuk mencari win-win solution. Kalau mau disetop orang segini banyak, solusinya seperti apa?” jelas Lasno.

Tak hanya sulit berjualan, viralnya penangkapan pengepul anjing berdampak kepada anak-anak para pedagang. “Anak-anak kami yang masih kecil di-bully di sekolahan,” ungkap dia.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif