Soloraya
Rabu, 21 September 2016 - 23:00 WIB

OMAC Diyakini Tak Maju Jika Dikelola Pemkab Klaten

Redaksi Solopos.com  /  Adib Muttaqin Asfar  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Tradisi padusan di Objek Wisata Mata Air Cokro (OMAC), Klaten, Rabu (17/6/2015). (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)

OMAC diyakini akan maju jika dikelola pihak ketiga atau bukan oleh Pemkab Klaten.

Solopos.com, KLATEN — Manajemen Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Tirta Mandiri Ponggok meyakini Objek Mata Air Cokro (OMAC) tak akan maju sepanjang dikelola perangkat daerah. Sebaliknya, pengelolaan OMAC perlu diserahkan ke pihak ketiga agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten bisa menikmati hasil maksimal.

Advertisement

Hal itu diungkapkan Kepala Desa (Kades) Ponggok, Junaedi Mulyono, saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (21/9/2016). BUMDes Ponggok menjamin Pemkab tak akan merugi saat menyerahkan pengelolaan OMAC ke pihak ketiga.

“Kalau dikelola pihak ketiga memang dibutuhkan peraturan daerah [perda]. Di sinilah masalahnya. Jika berani menerima tawaran kami, ayo segera dibahas perdanya. Kalau hanya dikelola perangkat daerah, saya tak yakin akan berhasil. Opo to sing dikelola SKPD sing berhasil di pariwisata,” katanya.

Junaedi mengatakan pengelolaan pihak ketiga tak harus dilakukan BUM Desa Ponggok sendiri. Pengelolaan itu juga bisa menggandeng beberapa pemerintah desa (pemdes) yang berada di sekitar OMAC, seperti Cokro dan Daleman Kecamatan Tulung.

Advertisement

“Pihak ketiga itu tak harus kami. Bisa saja dibentuk semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang didasarkan pada kepemilikan saham [pembagian hasilnya]. Kami juga siap kalau harus membuka diri untuk berembuk dengan Pemdes Cokro dan Daleman. Sebagai gambaran, kami berani mematok pendapatan hingga Rp1,5 miliar per tahun,” katanya.

Terpisah, Kades Daleman, Mursito, mengaku siap membuka diri untuk berembuk dengan Pemdes Ponggok guna mengelola OMAC. Syaratnya, harus ada perda terlebih dahulu dan pengelolaan OMAC tidak boleh berbenturan dengan kepentingan masyarakat, terutama kalangan petani di kawasan OMAC.

“Saya melihat apa yang disampaikan Pak Juned [Junaedi Mulyono] masih sebatas gagasan. Kalau prinsip saya, tak perlu murko. Tapi kalau memang diizinkan pemkab, kami siap berembuk dengan Pak Juned,” katanya.

Advertisement

Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten mengakui pengembangan OMAC belum optimal. Target tahunan OMAC pada 2016 diharapkan mencapai Rp800 juta. Hal itu jauh berbeda dengan target BUM Desa Ponggok yang mencapai Rp9 miliar.

“Persoalan di OMAC itu sangat kompleks, seperti benang yang sudah ruwet. Harus diurai satu-satu. Hal itu seperti manajemennya, wahana permainan, penataan pedagang, sampah, dan lain sebagainya,” katanya.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif