Soloraya
Jumat, 26 Agustus 2022 - 05:14 WIB

Paguyuban Krido Kawentar Boyolali Wakili Soloraya di Borobudur Night Carnival

Nova Malinda  /  Ahmad Mufid Aryono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Paguyuban Kesenian Tradisional, Krido Kawentar berlatih menari untuk persiapan Borobudur Night Carnival 2022, Kamis (25/8/2022). (Istimewa/Warno).

Solopos.com, BOYOLALI–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah akan menggelar Borobudur Night Carnival (BNC) pada Minggu, (27/8/2022).

Acara tersebut bakal menampilkan kesenian lokal milik komunitas-komunitas budaya pilihan se Jawa Tengah.

Advertisement

“Se Soloraya, cuma Paguyuban Seni Tari Tradisional Krido Kawentar yang besok tampil di Borobudur Night Carnival,” ucap Ketua Paguyuban Krido Kawentar, Sumanto pada Solopos.com, Rabu (24/8/2022).

Saat technical meeting Borobudur Night Carnival, Sumanto mengatakan jumlah peserta yang tampil di Borobudur Night Carnival diperkirakan sejumlah 13 komunitas budaya perwakilan se Jawa Tengah.

Advertisement

Saat technical meeting Borobudur Night Carnival, Sumanto mengatakan jumlah peserta yang tampil di Borobudur Night Carnival diperkirakan sejumlah 13 komunitas budaya perwakilan se Jawa Tengah.

Sumanto menjelaskan Paguyuban Krido Kawentar berada di kawasan lereng Gunung Merapi, tepatnya Dusun Jelok Desa Cluntang Kecamatan Musuk, Boyolali.

Isi tarian yang dibawakan Krido Kawentar menceritakan Misteri Gunung Bibi.

Advertisement

“Gunung Bibi itu kecil, tapi manfaatnya besar bagi masyarakat sekitar sini. Gunung itu menjadi sumber penghidupan bagi warga di sini, karena kami kan mata pencaharian nya petani, sering mencari rumput di sana,” ucap dia.

Selain itu, Gunung Bibi menjadi tembok penghalang yang melindungi masyarakat sekitar dari bahaya erupsi Gunung Merapi.

Melalui tarian tersebut, para Pemuda Dusun Jelok bermaksud untuk menjaga dan melindungi kelestarian Gunung Bibi dengan semangat gotong royong dan rasa handarbeni. Sehingga Gunung Bibi tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Advertisement

Pemuda Dusun Jelok memperjuangkan keutuhan Gunung Bibi melalui seni budaya yang ditampilkan oleh Krido Kawentar.

“Tarian ini dibagi menjadi beberapa part, pertama tarian gunungan, itu menceritakan Gunung Bibi itu sendiri. Selanjutnya ada tarian Apache, itu menceritakan pemuda dusun Jelok yang ingin melindungi kelestarian Gunung Bibi,” ucap dia.

Sumanto juga mengatakan burung besar juga muncul dalam tarian Misteri Gunung Bibi.

Advertisement

Burung tersebut melambangkan Elang Jawa yang terancam punah di Gunung Bibi maupun Gunung Merapi.

Selain itu, juga ada Burung Garuda yang digambarkan sebagai pelindungnya. Sumanto menyebutkan berat kostum burung garuda tersebut mencapai 20 kilogram.

Pada 2019, Krido Kawentar juga sempat dikirimkan ke Lombok oleh Dinas Pendididkan dan Kebudayaan Boyolali untuk menampilkan tarian mereka.

Berkat Tarian Misteri Gunung Bibi, Krido Kawentar meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya meliputi Juara I Kirab Budaya dalam rangka Featival Tidar 2016 di Kota Magelang, Juara I Festival Tari Rakyat Kabupaten Boyolali 2016, Juara I Piala Kapolres Boyolali dalam Festival Seni Tari Rakyat Kabupaten Boyolali 2017, Juara III Penampil Terbaik Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2017.

“Senang kalau bisa dapat juara, karena memang suka seni dan jiwanya, setiap meraih juara uang pembinaannya langsung masuk kas, tidak pernah dibagikan, karena dari awal niatnya bukan untuk mencari uang, tapi mencari kepuasan pribadi,” ucap salah satu pemuda yang tergabung dengan Krido Kawentar, Ngateno saat ditemui Solopos.com.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif