Soloraya
Kamis, 28 Juni 2012 - 09:01 WIB

PENGRAJIN ROTAN Keluhkan Harga Bahan Baku Terus Naik

Redaksi Solopos.com  /  Arif Fajar Setiadi  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi pengrajin rotan (JIBI/SOLOPOS/dok)

Ilustrasi pengrajin rotan (JIBI/SOLOPOS/dok)

SUKOHARJO- Pengrajin mebel rotan mengeluhkan harga bahan baku yang terus naik beberapa bulan belakangan. Kenaikan harga rotan berkisar Rp3.000-Rp13.500 dalam jangka waktu enam bulan.

Advertisement

Pengrajin rotan Dusun Kramat, Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Tugimin, mengatakan rotan besar tanpa kulit harganya Rp10.000-Rp11.000 per empat meter. Rotan besar itu biasanya dipakai perajin untuk membuat rangka mebel.

“Order terus menurun karena pelanggan tak mau harga mebel dinaikkan padahal harga rotan selalu naik,” ujar pemilik usaha mebel Ronika Rotan itu saat ditemui Solopos.com, Rabu (27/6/2012).

Dalam sehari, Ronika Rotan bisa memproduksi sepuluh unit mebel. Padahal dulu Ronika Rotan biasa memproduksi mebel 20-25 unit per hari. Harganya bermacam-macam mulai Rp150.000-Rp200.000/unit. Keuntungan yang didapatkan sekitar 10%.

Advertisement

Mobel produksinya dikirim ke pabrik Yale Pabelan untuk proses finishing. Mebel Rotan itu dikirim ke berbagai Negara seperti Italia, Perancis, Australia dan Eropa. “Krisis Eropa juga berpengaruh pada produksi mebel karena sebagian besar pelanggan berasal dari Eropa,” ujar Tugimin.

Senada dengan Tugimin, perajin rotan Dusun Jamur, Desa Trangsan, Ngadiyono, juga mengeluhkan harga rotan yang terus naik. Menyiasati kenaikan harga tersebut, Yono lebih selektif mengambil orderan dari pabrik. “Katanya rotan tidak boleh diekspor ke luar negeri? Hla kok malah harganya tambah mahal?” tanya pemilik Eka Rotan itu.

Pengusaha mebel yang sudah berkecimpung selama tujuh tahun itu bekerja sama dengan pabrik mebel di Klaten dengan sistem kontrak selama dua bulan. Ia sering dirugikan dengan sistem itu apalagi harga rotan terus naik.

Advertisement

Terpisah, penjual bahan baku rotan Mergi Rotan mengatakan harga bahan baku memang terus naik. “Kami cuma perantara kedua, kami ambilnya dari Surabaya. Kalau rotannya sih biasanya dikirim dari Kalimantan dan Sulawesi,” ujar karyawan Mergi Rotan, Vetty.

Para perajin rotan di Kecamatan Gatak ini berharap ada intervensi dari pemerintah untuk menstabilkan harga rotan. Mereka mengusulkan Pemkab Sukoharjo bekerja sama dengan provinsi penghasil rotan agar perajin mebel rotan lebih mudah mendapatkan bahan baku.

“Dulu Bank Indonesia pernah ke sini (Dusun Kramat, Desa Trangsan, Kecamatan Gatak-red), katanya mau membuat terminal rotan. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” pungkas Tugimin.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif