SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Sukoharjo (Espos)–Penutupan Dam Colo selama sebulan penuh mulai 1 Oktober mendatang dinilai takkan menimbulkan gejolak di kalangan petani. Pasalnya, penutupan dam telah menjadi kesepakatan dan jauh-jauh hari petani pun sudah mendapat sosialisasi mengenai hal itu.

Koordinator Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Colo Timur, Sarjanto, Senin (28/9), di Sukoharjo, mengungkapkan, pasokan air yang dialirkan melalui saluran induk Colo Timur akhir-akhir ini terus menyusut sehingga sudah tak menjangkau wilayah Ngawi.

Promosi Lebaran Zaman Now, Saatnya Bagi-bagi THR Emas dari Pegadaian

“Hal itu bisa dimaklumi karena persediaan air di Waduk Gajah Mungkur sebagai pemasok utama Dam Colo juga menipis,” jelasnya.

Dikatakan Sarjanto, kepastian penutupan Dam Colo selama sebulan ke depan telah tersosialisasikan dengan baik di kalangan petani, baik melalui media massa maupun dari mulut ke mulut. Oleh sebab itu, pihaknya merasa yakin takkan terjadi gejolak, meskipun banyak petani di sejumlah wilayah yang masih membutuhkan pasokan air untuk mengaliri lahan padi yang mereka tanam.

Sarjanto yang akrab disapa Jigong menambahkan, para petani yang nekat menanam padi pada musim tanam (MT) III ini biasanya telah memiliki rencana cadangan untuk mendapatkan air.

“Petani di Sragen misalnya, jika sudah tak mendapat air dari Dam Colo mereka mengandalkan air embung. Sementara, petani di Sukoharjo memperoleh air dengan cara menyedot air tanah,” urainya.

rei

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya