Soloraya
Selasa, 23 Agustus 2011 - 09:19 WIB

Petani khawatirkan alih fungsi lahan untuk permukiman

Redaksi Solopos.com  /  Tutut Indrawati  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - ilustrasi (dok Solopos)

ilustrasi (dok Solopos)

Boyolali  (Solopos.com)–Petani yang tergabung dalam Gabungan Paguyuban Petani Pengguna Air (GP3A) Daerah Irigasi (DI) Cengklik mengkhawatirkan adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman.

Advertisement

Jika terus berlanjut, para petani mengkhawatirkan pasokan air ke lahan akan tersendat akibat kerusakan saluran irigasi ke lahan pertanian.

Ketua GP3A DI Cengklik, Samidi, mengatakan selain kerusakan saluran, ketersediaan pangan juga akan terpengaruh, akibat semakin sempitnya lahan pertanian.

Advertisement

Ketua GP3A DI Cengklik, Samidi, mengatakan selain kerusakan saluran, ketersediaan pangan juga akan terpengaruh, akibat semakin sempitnya lahan pertanian.

“Bertambahnya permukiman juga harus dilakukan pengecekan. Terlebih saat ini Boyolali sudah memiliki Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Sehingga perlu segera disosialisasikan ke masyarakat,” ujarnya saat ditemui Espos di kediamannya, Senin (22/8/2011).

Akibat alih fungsi lahan tersebut, di wilayah DI Cengklik yang mengalami kerusakan parah terjadi di Desa Gagaksipat. Dari data di GP3A, jelas Samidi, kerusakan saluran irigasi sekunder itu telah terjadi sejak satu dasawarsa lalu.

Advertisement

Kerusakan itu, menurut Samidi, terjadi akibat banyaknya alih fungsi lahan menjadi permukiman dan perumahan. Akibatnya, lahan pertanian yang sebelumnya menggunakan irigasi teknis berubah menjadi ladang dan dijadikan perumahan.

“Padahal beberapa tahun lalu tanaman tebu di Gagaksipat terkenal sebagai tanaman dengan randemen terbaik di Kecamatan Ngemplak,” tandas dia.

Hal itu juga diakui Kaur Pembangunan Desa Gagaksipat, Sutrisno. Menurutnya, perubahan fungsi lahan itu sejak 10 tahun yang lalu. Selain itu, kerusakan saluran sekunder irigasi dari Waduk Cengklik juga menjadi penyebab alih fungsinya lahan pertanian warga.

Advertisement

“Saluran sekunder itu rusak sudah lama, sehingga lahan pertanian warga berubah menjadi ladang,” ujarnya.

Selain alih fungsi lahan, perubahan lahan akibat proyek jalan tol juga menjadi penyebab berkurangnya kawasan sebagai lumbung padi bagi Boyolali. Jika jalan tol tersebut beroperasi, tandas Samidi, akan berpengaruh pada hasil produksi padi petani.

“Pengaruhnya jelas, karena saluran irigasi yang selama ini akan terbelah antara utara dan selatan jalan tol. Sehingga, akan kesulitan mengakses saluran irigasi untuk pertanian, terutama di wilayah utara jalan tol nantinya,” papar dia.

Advertisement

Pihaknya berharap pemerintah bisa segera membahas terkait permasalahan tersebut. Terutama, tandas Samidi, terkait pemberian izin untuk mendirikan bangunan di tanah produktif pertanian.

(fid)

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif