Wonogiri jadi percontohan pengelolaan koperasi RT

13 Agustus 2009 17:38 WIB Wonogiri Share :

Wonogiri (Espos)--Pengelolaan koperasi rukun tetangga (RT) dengan manajemen baik akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan koperasi RT juga bisa untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Oleh karenanya, pihak perbankan dan pemerintah berkewajiban memberi pembinaan dan kredit agar koperasi bisa berkembang.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Koperasi (Menkop) Surya Darma Ali, saat melakukan kunjungan kerja ke Wonogiri.

Menkop diterima Bupati dan Muspida di pendapa rumah dinas Bupati dan menyaksikan peresmian teras BRI di Pasar Wonogiri oleh Direktur BRI Bambang Supeno, Kamis (13/8).

“Kami berharap, tahun 2009 ini atau paling lambat tahun 2010 koperasi RT di Wonogiri dijadikan percontohan secara nasional,” ujar Menkop.

Menkop mengatakan dirinya tinggal dua bulan lagi menjabat, karenanya dia meminta salah satu deputinya untuk melakukan langkah-langkah strategis sehingga keberadaan koperasi RT bisa dikembangkan di Indonesia. Ada empat hal yang ditekankan oleh Menkop kepada deputinya.

Pertama, soal penelitian dan kajian tentang keberadaan koperasi RT di Wonogiri.

Kedua, pengelola koperasi RT hendaknya dibina secara intensif, ketiga pemerintah mencarikan dana yang murah, mudah dan aman, dan keempat memberikan program spesial bagi Wonogiri tentang koperasi.
“Kami sendiri baru membahas penerapan pendirian koperasi di tingkat kecamatan, namun Bupati Wonogiri sudah mengimplementasikan pendirian koperasi di tingkat RT. Untuk itu, kredit yang diberikan oleh pemerintah hendaknya juga dikembalikan tepat waktu sehingga bisa digunakan yang lain.”

Lebih lanjut Menkop mengatakan kemajuan koperasi terletak pada manajemen dan pengelola yang jujur. “Kreativitas pengurus dan tidak hanya mengejar keuntungan dari anggota akan memajukan koperasi demi kesejahteraan anggota.”

Sementara itu, Direktur BRI Bambang Supeno mengatakan per 30 Juni 2009 kredit usaha rakyat (KUR) yang dikucurkan mencapai Rp 11 triliun dengan nasabah atau penerima lebih dari dua juta orang.
“Kalau dulu kredit UMKM dan koperasi plafon maksiml Rp 500 juta, namun kini KUR lebih diprioritaskan pada mikro industri dengan plafon Rp 5 juta tanpa agunan. Agunan adalah usaha itu sendiri,” katanya.

Di Wonogiri, ujarnya, KUR mencapai Rp 61 miliar dengan jumlah penerima 13.981 debitur.

tus