RAZIA SUKOHARJO : Repons Keluhan Warga, Satpol PP Tangkap Gelandangan

Aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mengamankan pengemis yang terjaring razia pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT). Setelah menyisir wilayah Kota Solo dan menangkapi mereka, para PGOT itu diturunkan aparat di Kantor Satpol PP, kompleks Balai Kota Solo. (Septian Ade Mahendra/JIBI - Solopos)
20 Juni 2015 04:10 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Razia Sukoharjo yang dilakukan Satpol PP menangkap Gelandangan dan orang gila di jalanan.

Solopos.com, SUKOHARJO — Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sukoharjo menangkap sejumlah gelandangan dan orang gila di Jl. Slamet Riyadi, Jumat (19/6/2015). Mereka langsung dibina agar tidak berkeliaran di jalan raya.

Kepala Bidang (Kabid) Penegakan Perda Satpol PP Sukoharjo, Sunarto, mengatakan penangkapan gelandangan dan orang gila berdasar laporan dari masyarakat. Mereka resah lantaran jumlah gelandangan dan pengemis di sejumlah ruas jalan kian bertambah saat Bulan Puasa.

“Jadi ini bukan razia pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT). Ini hanya kegiatan untuk merespons laporan masyarakat,” katanya saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat.

Para gelandangan dan orang gila didata identitas diri dan dibina agar tak lagi mengulangi perbuatannya. Rata-rata para PGOT berasal dari luar wilayah Sukoharjo dan semakin menjamur menjelang Lebaran. Mereka meminta-minta uang di perempatan atau pertigaan jalan raya.

Sesuai Peraturan Daerah (Perda) No 3/2014 tentang Ketertiban Umum menyebutkan wewenang petugas Satpol PP tak hanya menindak, namun juga melakukan pembinaan terhadap PGOT di Sukoharjo. “Harapannya tak ada lagi pengemis, gelandangan maupun orang telantar di Sukoharjo,” terang dia.

Para gelandanan dan orang gila itu langsung dibawa ke Yayasan Rehabilitasi Mental Sinai di Dukuh Kutu, Desa Telukan, Kecamatan Grogol. Mereka akan mendapatkan pengobatan mental sehingga bisa beraktivitas sehari-hari seperti manusia normal. “Mereka [gelandangan dan orang gila] dibawa langsung ke Yayasan Rehabilitasi Mental Sinai untuk mendapatkan pengobatan mental,” ujar Sunarto.

Selama ini, gelandangan dan orang gila dititipkan di tiga panti swasta di Kabupaten Jamu, sebutan Sukoharjo. Selain Yayasan Rehabilitasi Mental Sinai, ada dua panti swasta lainnya yakni Yayasan Pintu Keselamatan di Desa Karangmojo, Kecamatan Weru dan Panti Asuhan Jati Adulam Ministry di Desa Bugel, Kecamatan Polokarto.

Salah seorang warga asal Kelurahan Begajah, Kecamatan Sukoharjo, Ari Susilo, sepakat dengan langkah Satpol PP yang menggalakkan razia PGOT selama Ramadan. Ia mengaku risih dengan banyaknya gelandangan dan pengemis yang sering meminta-minta di jalan.