PILKADA SRAGEN 2015 : Rokok, Tawa, dan Pidato Terakhir Agus Fatchur Rahman

Kusdinar Untung Yuni Sukowati vs Agus Fatchur Rahman (JIBI/Solopos.com - Dok.)
09 Desember 2015 22:30 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Pilkada Sragen 2015 membuat Agus Fatchur Rahman menghadapi kenyataan menjadi petahana yang gagal dalam persaingan.

Solopos.com, SRAGEN -- Kekalahan petahana Agus Fatchur Rahman di Pilkada Sragen berakhir antiklimaks. Detik-detik penghitungan suara yang awalnya meyakinkan, menjadi berbalik arah saat pelan-pelan rival utama mereka unggul dan membuyarkan harapan kemenangan.

Digit demi digit angka tabulasi real count yang ditampilkan lewat layar LCD terus bergerak sejak pukul 14.00 WIB. Ratusan orang berduyun-duyun memadati halaman dan jalan depan rumah Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman di Kuwungsari, Sragen Kulon, Rabu (9/12/2015). Gemuruh teriakan kegembiraan mengawali angka awal perhitungan cepat itu.

Suara bersorak girang timbul tenggelam dinamis menyesuaikan ritme perolehan suara untuk pasangan Agus Fatchur Rahman-Djoko Suprapto (Amanto). Waktu terus berjalan, jarum jam tangan menunjuk pukul 16.00 WIB. Situasinya tiba-tiba senyap. Hiruk pikuk suara sorak perlahan menghilang. Posisi Amanto berada di bawah pasangan Kusdinar Untung Yuni Sukowati-Dedy Endriyatno (Yuni-Dedy) dengan selisih sekitar 2%.

Beberapa orang mulai gerah. Ada yang tak kuasa menunggu detik terakhir penghitungan cepat itu. Djoko Suprapto terlihat risau dengan angka itu. Sesekali tangannya mengusap rambut ke belakang sembari bersandar kursi saat melihat pergerakan angka itu. Dia seperti duduk di kursi panas. Dia beralih ke tempat duduk di pinggir pagar halaman. “Waduh enggak ngangkat ini,” keluhnya lirih.

Dia pun kemudian bergeser duduk di lincak bambu di pinggir jalan yang sesak orang bersama Agus Fatchur Rahman. Agus tak melihat langsung hasil perolehan suara Amanto. Dengan menikmati sepuntung rokok, Agus memilih berbicara dengan beberapa orang di sekelilingnya.

Entah suasana batin seperti apa yang dirasakan Agus. Mimik mukanya tenang seolah tak ada kekhawatiran sedikit pun. Tertawa pun terdengar meskipun sedikit ditahan. Baca: http://www.solopos.com/2015/12/09/hasil-pilkada-sragen-sugiyamto-sudah-ucapkan-selamat-kepada-yuni-dedy-669160" target="_blank">Sugiyamto Sudah Ucapkan Selamat ke Yuni-Dedy.

Digit tabulasi menunjuk suara dari tempat pemunguatan suara (TPS) yang masuk mencapai 99% dari total 1.644 TPS di Bumi Sukowati. Posisi Amanto sebesar 37,74% tetap di bawah Yuni-Dedy yang mencapai 40,65%. Ketua Tim Pemenangan Amanto, Suharno W.D., mulai gelisah. Dia keluar masuk halaman rumah Agus. Baca: http://www.solopos.com/2015/12/09/hasil-pilkada-sragen-2015-aroma-kekalahan-quick-count-jaka-sumanta-konfirmasi-keunggulan-yuni-deddy-669198" target="_blank">Quick Count Jaka Sumanta Konfirmasi Keunggulan Yuni-Dedy.

Hingga akhirnya Suharno meminta Agus dan Djoko untuk bicara di depan massa Amanto. Dengan sikap tegar dan sabar, Agus pun berbicara lantang untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada pendukung Amanto.

“Hasilnya ya seperti yang kita lihat bersama. Saya dan Pak Djoko sudah memberikan semua untuk kemenangan Amanto. Takdir Allah yang menentukan saya harus seperti ini sehingga saya harus menerima. Saya mohon maaf kepada pendukung, simpatisan, dan kader karena belum bisa membuat kalian bangga menjadi pendukung Amanto,” serunya.

Agus menyampaikan kesimpulan agar tetap bersabar dan jangan putus asa. Agus meminta doa kepada para kader untuk mendoakannya agar bisa meneruskan perjuangan untuk Sragen. “Jangan malu, jangan pernah menyerah! Doakan saya tetap sabar, tabah, dan mampu menyelesaikan semua ini dan sabar diuji dalam situasi seperti ini,” katanya.

Kata-kata itu disambut haru para kader dan simpatisan Amanto. Mereka berebut merangkul Agus dengan isakan tangis yang mendalam. Pelukan pertama Agus diberikan kepada istrinya Wahyuning Harjanti dan keluarganya kemudian berlanjut kepada para kader dan simpatisan Amanto. Mata Agus sempat memerah karena tak kuasa melihat para pendukungnya menangis. “Tidak perlu menangis. Ini memang takdir kita,” ujarnya.