WARGA TENGGELAM BOYOLALI : BPBD: Ada 7 Orang Tewas Tenggelam di Sungai

Tim search and rescue (SAR) gabungan berusaha memasang jaring untuk mencari korban tenggelam di Sungai Bengawan Solo, seputaran kawasan Pucangsawit, Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/5/2014) malam. Korban tersebut tenggelam saat berusaha melarikan diri dari kejaran polisi ketika sedang bermain judi merpati di bantaran sungai. (Ardiansyah Indra Kumala/JIBI - Solopos)
22 Januari 2016 09:30 WIB Muhammad Ismail Boyolali Share :

Warga tenggelam Boyolali, BPBD Boyolali mencatat hingga pertengahan Januari sudah ada tujuh orang tewas tenggelam di sungai.

Solopos.com, BOYOLALI--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mencatat sampai pertengahan Januari sebanyak tujuh orang tewas tenggelam di sungai. Banyaknya korban yang tenggelam di sungai membuat BPBD berencana memasang rambu peringatan di lokasi sungai rawan.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali, Purwanto, mengatakan tenggelamnya lima siswa Ponpes pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Dukuh Pomahan RT 003 / RW 002 Desa Senting, Sambi, Boyolali merupakan kasus ketiga yang menelan korban jiwa. Kasus tenggelamnya siswa kelas IV SDN Ngesrep, Atnan Rifai, 10, di Sungai Pepe pernah terjadi di Dukuh Ngasrep, Ngemplak, Minggu (10/1/2016) dan di Sungai Tretes di Desa Klego, Klego, Rabu (20/1/2016) dengan korban Ananda Putri Finata, 13.

“Total jumlah korban tewas tenggelam di sungai di Boyolali sampai Januari sebanyak tujuh orang,” ujar Purwanto saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis (21/1/2016).

Purwanto mengatakan kasus di Sambi sangat mengagetkan karena kondisi sungai sebenarnya tidak besar. Namun, karena di Sungai Senting itu terdapat bendungan saluran irigasi pertanian yang kedalaman mencapai 3-4 meter bisa mengancam keselamatan.

“Kejadian tewas tenggelam di Sungai Senting baru kali pertama ini terjadi. Tahun lalu satu mobil Toyota Avanza terseret arus air dan masuk sungai,” kata dia.

Ia mengimbau kepada masyarakat yang tinggal disepanjang sungai untuk berhati-hati terutama ketika terjadi hujan deras dalam kurun waktu lama di daerah hulu. Selain itu meminta kepada orang tua untuk selalu mengawasi anaknya jangan sampai bermain di sungai sendirian.

Purwanto mengatakan korban tewas tenggelam di Sungai Tretes Desa Klego, Klego, atas nama Ananda Putri Finata, 13, warga Dukuh Tegalsari, Desa Pengkol, Karanggede, Boyolali akhirnya ditemukan di Sungai Braholo Dukuh Kedunguter, Desa Bawu, Kemusu, Boyolali, Kamis. Lokasi ditemukannya korban berjarak sekitar 15 kilometer dari tempat kejadian.

“Warga menemukan korban tenggelam pukul 06.30 WIB dengan kondisi pipi sebelah kiri lebam akibat terbentur batu,” kata dia.
Siswi kelas VII di SMP BK Klego, Boyolali, kata dia, diduga mengambil jalan pintas saat pulang sekolah dengan cara menyeberangi sungai hingga akhirnya terseret arus sungai. Dari tiga siswa yang terseret dua siswa selamat dan satu orang meninggal dunia.

Terpisah, Kakek dari Muh. Khairulloh, Marjan, mengatakan selama ini tidak punya firasat apapun sebelum cucunya meninggal dunia tenggelam di Sungai Senting. Ia mengaku kaget setelah diberitahu salah seorang guru di Ponpes Miftahul Huda kalau cucunya meninggal dunia setelah bermain di sungai.

“Jenazah korban tiba di rumah duka Rabu malam pukul 19.00 WIB dalam kondisi masih menggunakan seragam sekolah,” ujar Marjan, warga Dukuh Grenjeng, Desa Trosobo, Sambi, Boyolali saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kamis (21/1/2016).

Ia mengatakan jenazah korban di makamkan pukul 10.00 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Banaran. Keluarga sudah mengikhlaskan kepergian anak kedua dari enam bersaudara pasangan Mawardi, 46 dan Simiyati, 39. Selama ini korban terkenal sebagai anak yang ceria dan baik kepada siapa saja.

“Keluarga tidak akan menuntut ke Ponpes Miftahul Huda atas kejadian ini. Kami terima kejadian ini sebagai musibah,” kata dia.