WAJIB JAM BELAJAR SOLO : Banyak Pokja GWJB Tidak Lagi Aktif

JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris NugrahaSiswa SD Al Azhar Syifa Budi belajar bahasa Inggris dengan praktek gerakan tubuh di sekolah, Kamis (30 - 8). Pelajaran dengan cara tersebut untuk mempermudah anak memahami dan mengingat
16 Juni 2016 21:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Wajib jam belajar Solo, Pemkot Solo mendata banyak pokja GWJB tak aktif.

Solopos.com, SOLO--Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Bapermas, PP, PA, dan KB) Solo menyebut banyak kelompok kerja (Pokja) Gerakan Wajib Jam Belajar (GWJB) di berbagai kelurahan di Kota Bengawan tidak lagi aktif memonitoring kegiatan anak-anak.

Kabid Perlindungan Anak (PA) Bapermas, PP, PA, dan KB Solo, Supraptiningsih, menyebut bukan berarti pokja GWJB yang tidak lagi aktif sudah tidak memiliki pengurus atau anggota. Melainkan, lanjut dia, pokja GWJB tersebut tidak lagi melaksanakan tugas untuk mengontrol kegiatan masyarakat serta menjalankan program. Menurut dia, hanya sedikit pokja GWJB di kelurahan yang masih aktif berkegiatan.

"Ada pokja [GWJB] yang aktif, tapi banyak juga yang sudah tidak. Mereka idealnya terus memonitoring dan mengevakuasi pelaksanaan GWJB di kelurahan masing-masing. Maka dari itu kami mencoba mengaktifkan kembali pokja-pokja GWJB sekarang," kata Supraptiningsih kepada Solopos.com di sela-sela forum Pembinaan Pokja GWJB Peran Pokja Dalam Pendampingan GWJB di Wilayah di Sasana Praja lantai 5, kompleks Balai Kota Solo, Rabu (15/6/2016).

Supraptiningsih tidak bisa memerinci jumlah pokja GWJB di kelurahan yang masih aktif atau tidak. Hanya, dia menceritakan, beberapa pokja GWJB yang masih aktif kerap bekerja sama dengan pengurus masjid, pengiurus RT/RW, pejabat kalurahan di wilayah masing-masing untuk mengingatkan anak-anak belajar. Berdasarkan pakem program GWJB, anak-anak dianjurkan belajar pada pukul 18.30-20.30 WIB.

"Masih ada pokja GWJB yang bekerja sama dengan takmir masjid, ketua RT/RW, maupun pemerintah kelurahan untuk membunyikan kentongan maupun sirine. Kami memang punya tim di setiap kelurahan. Kami berharap mereka terus mengembangakan diri tergantung karakteristik wilayah masing-masing. Kelurahan kan punya anggaran, misalnya bisa untuk membeli sirine," jelas Supraptiningsih.

Sementara itu, perwakilan dari Rumah Dongeng Nusantaa, Muhammad Natsir, yang juga menjadi nara sumber dalam pembinaan, menjelaskan manfaat penyelenggarakaan GWJB, yakni bisa sebagai cara untuk bisa berkumpul dengan keluarga, pendampingan belajar lebih baik, problem solving pada anak, dan mengembangkan kasih sayang. Dia mendukung GWJB untuk terus dilaksanakan di Solo dan berbagai daerah lain di Indonesia.