KOPERASI JATENG : Gubernur akan Tutup 5.000 Koperasi, Ini Alasannya

Ilustrasi gerakan koperasi (Bisnis.com)
28 Juli 2016 08:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Koperasi Jateng, Gubernur Jateng mengancam akan menutup koperasi yang tidak aktif.

Solopos.com, SOLO--Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengancam akan menutup 5.000 koperasi karena kondisinya tidak aktif. Lembaga berkedok koperasi

“Saat ini terdapat 28.000 koperasi yang terdaftar di Jawa Tengah. Dan sekitar 5.000 koperasi kondisinya tidak aktif,” kata Ganjar usai meninjau stan pameran produk UMKM dalam rangka memperingati Hari Koperasi Jateng di Benteng Vastenburg, Rabu (27/7/2016).

Ganjar mengatakan sebagian besar kondisi koperasi masih aktif meski memiliki kinerja yang berbeda-beda. Ganjar akan menutup koperasi yang kondisinya tidak aktif. Alasannya, Ganjar menginginkan agar pemerintah bisa lebih fokus dalam melakukan kegiatan pembinaan koperasi. Koperasi tersebut didorong agar kinerjanya semakin membaik. Selain itu, penutupan koperasi bertujuan untuk meminimalisasi penyalahgunaan lembaga berkedok koperasi atau koperasi abal-abal. Modusnya, lembaga tersebut melakukan praktik lintah darat.

“Saya memerintahkan seluruh kepala Dinas Koperasi dan UMKM se-Jateng untuk mendata ulang koperasi. Data ini akan menjadi acuan kami tahu mana koperasi yang aktif dan tidak aktif,” kata Ganjar.

Ganjar menuturkan inventarisasi koperasi sejalan dengan program Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop dan UKM) mereformasi koperasi. Dalam sambutan Menkop dan UKM A.A.G.N. Puspayoga, yang dibacakan Ganjar dalam upacara peringatan Hari Koperasi di Balai Kota, masih banyak koperasi yang belum berhasil, terpuruk dan terbelenggu karena permasalahan inten. Selain itu kesulitan permodalan dan permasalahan organisasi lainnya.

“Rehabilitasi merupakan langkah pembaharuan organisasi koperasi melalui pemutakhiran data melalui online database system dan pembekuan atau pembubaran koperasi tidak aktif,” katanya.

Rehabilitasi ditempuh mengingat data koperasi di Indonesia 2015, tercatat 212.135 unit. Namun koperasi yang aktif hanya 150.223 unit. Reorientasi sebagai upaya sistematis dilakukan untuk merubah paradigma dari pendekatan mengambil bagian dalam reformasi total koperasi sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing. Ganjar mengatakan Pemerintah akan terus hadir dan berkomitme meningkatkan peran dalam membangun koperasi melalui berbagai kebijakan dan program. Di antaranya berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) koperasi, kewirausahaan, peningkatan akses ke pembiayaan dan teknologi informasi.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Dinkop dan UMKM) Nur Haryani mengatakan secara keseluruhan jumlah koperasi di Kota Solo ada 240 koperasi. Saat ini, Dinkop dan UMKM tengah mendata ulang koperasi. Pendataan dilakukan guna memastikan data riil koperasi yang aktif dan tidak aktif.

“Ada beberapa koperasi yang tinggal papan nama saja. Tapi tidak ada kegiatannya,” katanya.

Setidaknya Dinkop dan UMKM telah melayangkan surat peringatan kepada 37 koperasi. SP dilayangkan lantaran koperasi tersebut tidak melaksanakan kegiatan sebagaimana tertuang dalam aturan pendirian koperasi, di antaranya melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT).

“Kalau memang tidak ada respon akan kita tindaklanjuti dengan pembubaran koperasi,” katanya.