KISAH INSPIRATIF : Produksi Beras Hitam, Petani Sragen Ini Untung 3 Kali Lipat

Paniyo menunjukkan dua kemasan beras hitam dalam plastik ukuran 1 kg yang diproduksinya. Beras itu dipasarkan dengan merek Opek Pangan. Foto diambil di depan penggilangan beras Dukuh Kedungdiro, Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen, Rabu (12/10/2016). (Tri Rahayu/JIBI - Solopos)
14 Oktober 2016 08:30 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Kisah inspiratif, seorang petani di Sragen mendapat untung tiga kali lipat dari memproduksi dan menjual beras hitam.

Solopos.com, SRAGEN -- Pada 2013 lalu, Paniyo, 40, seorang petani di Dukuh Kedungdiro RT 049, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, memiliki ide yang dianggap konyol. Ia terpikir untuk memproduksi beras hitam.

Namun, Paniyo tertantang untuk mencoba ide tersebut. Awalnya dia kesulitan mendapatkan bibit beras hitam. Dia baru menemukan bibit padi hitam saat mengikuti pameran pertanian di Soropadan, Kabupaten Temanggung pada 2015 lalu.

Benih satu kilogram dia beli dengan harga Rp50.000. Benih itu masih harus dipilih dan dipilah karena bercampur dengan benih padi beras putih dan padi beras merah.

Setelah disortir, benih ditanam dengan lahan seadanya dan menghasilkan benih lagi sebanyak 3 kg. Dari benih pengembangan sendiri itulah, Paniyo menanam dengan lahan cukup luas mulai November 2015 dan panen pada Januari 2016.

Hasilnya saat itu belum maksimal, hanya empat sak gabah kering panen (GKP). “Saat itu banyak teman-teman anggota kelompok tani yang memandang sebelah mata dengan usaha saya. Tetapi saya tidak terganggu dengan hal itu,” ujar dia saat ditemui Solopos.com di tempat penggilingan padi di desanya, Rabu (12/10/2016).

Pada panen kedua, Mei-Juni, Paniyo mendapat 2,5 kuintal beras. Sejak itulah, Paniyo berani memasarkan beras hitam itu. Dia mengurus izin tanda daftar perusahaan (TDP) ke Pemkab Sragen hingga ke Kementerian Kesehatan.

Setelah mendapat izin dagang, Paniyo mengemas beras hitam itu dengan kemasan plastik kedap udara dan memberi merek Opek Pangan. Beras 2,5 kuintal lebih itu ludes dalam waktu sebulan.

Beras hitam kemasan 1 kg itu dia jual dengan harga Rp30.000/kemasan. Sejak itu, semangat Paniyo terus meningkat. Bibit padi yang tersisa langsung ditebarkan pada dua patok lahan persawahan dengan selang waktu 10 hari.

Panen ketiga ia berhasil membawa pulang 40 sak GKP atau 2 ton GKG pada akhir September lalu. Kemudian hasil panen terakhir menghasilkan 30 sak GKP atau 1,3 ton GKG yang kini berada di tempat penggilingan gabah itu.

“Kini, saya dianggap sudah jadi orang di kelompok tani. PPL [petugas penyuluh lapangan] pertanian Sambungmacan malah pesan satu ton untuk dipasarkan ke Bangka, Sumatra, dan Bali karena sebelumnya sudah kirim sampel beras masing-masing 20 kg. Pesanan dari perseorangan banyak. Beras hitam semakin menjanjikan masa depan. Keponakan saya pun ikut bergabung jadi pemasar produk,” kata Paniyo.

Prospek yang menjanjikan itu tak segera ditangkap para petani di Banaran. Paniyo bergabung di Kelompok Tani Sri Rejeki dengan 100 anggota. Namun, tak satu pun dari anggota kelompok tani itu yang mengikuti jejak Paniyo.

Padahal, usaha Paniyo itu memiliki prospek sangat bagus. Penghasilan Paniyo dari beras hitam minimal 1 ton per patok atau senilai Rp30 juta per patok. Sedangkan hasil panen beras putih varietas unggul hanya dibeli tengkulak dengan harga Rp9 juta per patok.

“Ya, untungnya bisa tiga kali lipat bila dibandingkan beras biasa. Selama pemasaran saya baru dari mulut ke mulut, belum penetrasi ke supermarket dan seterusnya. Kualitas beras hitam saya ini kalau di supermarket dijual dengan harga Rp50.000-an per kg,” tambahnya.

Biaya produksi mulai dari tanam sampai giling hanya membutuhkan Rp7.998.333/patok. Pupuk yang digunakan Paniyo didominasi pupuk organik, yakni 40 sak pupuk organik plus 25 kg pupuk urea. Dia menggeluti usaha pertanian sejak masih muda.

Beras hitam memiliki banyak manfaat, di antaranya meningkatkan daya tahan tubuh, sebagai antioksidan, memperbaiki kerusakan hati, hepatitis, dan chirrosiss, serta masih banyak manfaat lainnya.