TRANSMIGRASI KLATEN : 10 Keluarga Berangkat ke Kalimantan Utara

Ilustrasi transmigrasi (mediapalu.com)
15 Oktober 2016 07:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Transmigrasi Klaten, sebanyak 10 keluarga asal Klaten berangkat transmigrasi ke Kalimantan Utara.

Solopos.com, KLATEN -- Sepuluh keluarga terdiri atas 46 jiwa asal Klaten diberangkatkan ke daerah transmigrasi di Provinsi Kalimantan Utara. Klaten menjadi satu dari 10 kabupaten di Jawa Tengah (Jateng) yang tahun ini mendapat sasaran program transmigrasi dari pemerintah provinsi.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Klaten, Surti Hartini, mengatakan para transmigran dari Klaten diberangkatkan pada Jumat (14/10/2016). Sebelum berangkat, mereka transit di Semarang untuk diberangkatkan ke daerah transmigrasi oleh pemerintah provinsi.

“Kemudian mereka diberangkatkan ke Kalimantan melalui jalur laut menyeberang dari Surabaya. Perkiraan sampai ke daerah transmigrasi pada 19 Oktober nanti,” kata Surti saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Jumat.

Surti mengatakan 10 keluarga tersebut akan tinggal di Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Sepunggur, Kelurahan Tanjung Selor Timur, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Sebelumnya, 10 keluarga tersebut sudah melalui tahapan seleksi serta mendapatkan pembekalan dari pemerintah provinsi.

Warga yang ikut transmigrasi itu berasal dari sejumlah kecamatan seperti Wonosari, Trucuk, Jatinom, Kebonarum, serta Manisrenggo. Surti mengatakan selama ini belum ada sanksi yang diberlakukan kepada para transmigran jika mereka kedapatan meninggalkan daerah transmigrasi.

Ia menyebut selama ini para transmigran asal Klaten relatif betah berada di daerah tujuan. Kabid Transmigrasi Dinsosnakertrans Klaten, Supriyanto, menjelaskan masing-masing keluarga yang ikut program transmigrasi mendapat fasilitas berupa rumah serta lahan untuk bercocok tanam.

“Di lokasi nanti sudah disiapkan rumah yang berdiri di lahan seluas 1 ha. Dari pemerintah juga memberikan jatah hidup selama satu tahun. Saat pemberangkatan, Pemkab juga memberikan bantuan peralatan seperti cangkul dan gergaji serta bibit tanaman,” ungkap dia.

Supriyanto mengatakan sesuai perjanjian para transmigran tak boleh menjual tanah yang mereka olah. Salah satu warga yang ikut program transmigrasi, Samina, 46, menuturkan ada lima anggota keluarganya yang ikut ke daerah transmigran.

Ia sudah mengajukan diri untuk mengikuti program tersebut sejak setahun lalu. “Ikut program ini tujuannya ingin mengubah perekonomian agar lebih baik. Selama ini saya bekerja buruh serabutan,” kata warga Desa Bolali, Wonosari itu.

Samina menuturkan akan melihat dulu potensi di daerah setempat. “Rencananya nanti dibuat semacam food state dan itu harus seragam semuanya seperti kalau perikanan ya perikanan semua atau pertanian semua. Dilihat dulu nanti potensi di sana seperti apa,” tutur dia.